you're reading...
Keanekaragaman Hayati

Belum Muncul Harapan yang Baik Untuk Konservasi Gajah Sumatera

Perkiraan populasi gajah sumatera terus menurun. Bila pada 1985, diperkirakan berjumlah 2.800 – 4.800 individu, lalu pada 2007 diperkirakan berjumlah 2.400 – 2.800 individu, dan pada 2014 diperkirakan berjumlah 1.700 – 2.000 individu. Bila dilihat dari periode 1985 – 2007 dan 2007 – 2014, laju penurunan cukup signifikan. “Belum muncul harapan yang baik untuk masa depan konservasi gajah sumatera,” ujar Ketua Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI) Simanko Padang, Sabtu (24/12/16).

Menurut Azmi dan Gunaryadi (2011), kawasan konservasi alam yang memiliki prospek untuk penyelamatan gajah sumatera meliputi Taman Nasional Gunung Leuser, Suaka Margasatwa Siak Kecil, Suaka Margasatwa  Padang Sugihan, Taman Nasional Way Kambas, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan dan Taman Nasional Kerinci Seblat . Hanya saja, tidak banyak kabar baik terkait pertambahan populasi gajah di kawasan konservasi. Di TNBBS misalnya, bila sebelumnya jumlah populasi diperkirakan 498 individu, kini menurun.

dsc_0103

Seekor gajah sumatera di Pusat Latihan Gajah Seblat, Bengkulu Utara. Foto; Dokumen Bengkulu Heritage Society

 

“Diperkirakan tinggal 50-an individu lagi di TNBBS. Kalau di TNKS, diperkirakan tinggal 10 individu lagi,” kata Krismanko. Sedangkan di Taman Nasional Way Kambas, peneliti gajah sumatera dari Wildlife Conservation Society Indonesia Program (WCS-IP) Wulan Pusparini tidak menyebutkan ada penambahan. Kendati hasil survei WCS pada 2002 menyebutkan perkiraan populasi gajah berjumlah 180 individu dan pada 2010 berjumlah 247 individu. “Tidak meningkat, kemungkinan stabil,” kata Wulan, Kamis (22/12/16).

Di Provinsi Bengkulu, gajah diperkirakan berada di Bengkulu Utara dan Mukomuko. Azmi dan Gunaryadi (2011) mengemukakan jumlah populasi gajah di bagian barat Bukit Barisan di Bengkulu Utara tidaklah jelas, meski diperkirakan lebih dari 100 individu. Sedangkan Sitompul (2011) mengemukakan jumlah populasi gajah liar di sekitar Pusat Latihan Gajah (PLG) Seblat antara 40 – 60 individu. Sementara Mantan Koordinator PLG Seblat drh. Erni Suyanti Musabine memperikakan sudah tidak mencapai 50 individu lagi. “Diperkirakan kurang dari 50 individu,” kata Suyanti, Kamis (22/12) di Kantor BKSDA Bengkulu – Lampung.

Menurut Sitompul (2011), banyak populasi gajah berada di kawasan dataran rendah dan hampir 85 persen dari wilayah populasi gajah berada di luar kawasan yang dilindungi, dan semua populasi diperkirakan rentan akibat terus hilangnya habitat akibat konversi skala besar untuk perkebunan, pemukiman, pembalakan liar dan kebakaran hutan. “Semakin susah untuk mempertahankan habitat gajah sumatera di luar kawasan konservasi. Penerbitan izin perkebunan, hutan tanaman industri dan pertambangan pun sudah kian banyak, termasuk pemukiman,” tambah Simanko.

Misalnya di Provinsi Bengkulu. Kawasan hutan di sekitar PLG Seblat, tulis Sitompul (2011), bukanlah kawasan lindung dan secara cepat telah dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit dan pemukiman. Kehilangan habitat diluar PLG Seblat telah mengurangi kapasitas kawasan untuk keberlanjutan populasi gajah dan meningkatkan konflik gajah-manusia. Kehilangan kawasan hutan bukan lindung juga memperburuk kondisi keterisolasian populasi gajah di PLG dari populasi gajah lainnya yang terdekat di bagian utara provinsi Bengkulu.

Azmi dan Gunaryadi (2011) juga mengatakan, ketidaaan koridor gajah ketika hutan dataran rendah yang dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit telah memicu konflik di beberapa wilayah, seperti wilayah Sungai Retak, dimana gajah-gajah kehilangan akses menuju ke bagian utara Air Dikit. “Konsekuensinya, sangatlah dibutuhkan perlindungan terhadap area bekas HPH di sekitar PLG, termasuk Hutan Produksi Air Rami dan Air Teramang, Hutan Produksi Terbatas Lebong Kandis, Air Ipuh 1 dan Air Ipuh 2,” tulis Sitompul.

Terus hilangnya habitat mendorong gajah mendekati pemukiman dan perkebunan, sehingga memicu konflik gajah – manusia dan perburuan. Ironisnya, tidak sedikit masyarakat di Bengkulu Utara dan Mukomuko menyikapi konflik dengan membunuh gajah. Selain racun, upaya membunuh gajah menggunakan jerat paku. “Dibunuh secara pelan-pelan. Akibat terinjak paku, gajah akan mengalami infeksi. Selanjutnya gajah akan sakit dan lama kelamaan akan mati,” kata Suyanti.

Pembunuhan gajah juga terjadi di Taman Nasional Way Kambas. “Selama 2010 – 2015, ditemukan 5 ekor mati. Lalu, pada 2016 dibentuk tim Smart Patrol. Hasilnya, selama 2016 tak ditemukan gajah dibunuh terkait kejahatan. Hanya 1 ekor anak gajah mati akibat konflik karena masuk sawah,” kata Wulan. Untuk penanganan konflik, WCS telah berupaya melakukan berbagai cara. Dimulai dari menyiram jus cabe di kain yang diikat di pagar, pengembangan ternak madu, penggunaan meriam kaleng, hingga pemasangan tong yang berputar.

Mempertimbangkan banyak gajah sumatera hidup di luar kawasan yang dilindungi, ujar Sitompul (2011), aksi konservasi gajah sumatera harus fokus untuk melindungi habitat gajah yang tidak dilindungi dan restorasi habitat untuk meningkatkan kualitas habitat gajah untuk masa yang akan datang. Secara terpisah, Simanko juga berpandangan serupa. “Mempertahankan habitat dan mengembalikan habitat yang telah dikonversi merupakan kunci konservasi gajah sumatera, termasuk merestorasi habitat gajah yang telah rusak. Tanpa upaya ini, tidak akan muncul harapan yang baik,” kata Simanko.

Habitat gajah sumatera, menurut Sitompul (2011), memiliki fungsi ekosistem yang kompleks dan sangat penting bagi penduduk. Bukan hanya menyediakan sumberdaya penting bagi budaya lokal  seperti obat-obatan tradisional atau bahan pewarna pakaian tradisional, tetap juga makanan dan air bersih, penstabil iklim lokal dan melindungi manusia dari bencana alam  seperti banjir, kekeringan dan longsor, dan konflik satwa liar – manusia. Jadi, melindungi habitat gajah juga melindungi manusia. “Menyelamatkan habitat gajah sama dengan menyelamatkan manusia,” tambah Simanko.

 

Referensi tambahan

  • Sitompul, Arnold Feliciano, “Ecology and Conservation of Sumatran Elephants (Elephas maximus sumatranus) in Sumatra, Indonesia” (2011). Dissertations. Paper 355.
  • Azmi, Wahdi  and Gunaryadi, Donny “Current Status of Asian Elephants in Indonesia”, Gajah 35 (2011) 55-61

Catatan: Tulisan ini dikemas ulang dari Membunuh Gajah, Menghancurkan Jejak Peradaban Bangsa Indonesia (http://www.mongabay.co.id/2016/12/27/membunuh-gajah-menghancurkan-jejak-peradaban-bangsa-indonesia/) dan catatan pribadi.

Advertisements

About dedek hendry

Gunung Itu Bernama Jurnalisme. Puncaknya: Kebebasan dan Kebahagiaan.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: