you're reading...
Keanekaragaman Hayati

Harimau Sumatera di Bengkulu: Populasi, Perburuan dan Konflik

Indonesia memiliki sejarah kelam dengan harimau (Tilson and Nyhus, 2010). Dua dari tiga subspesies harimau Sunda Island di Indonesia telah dinyatakan punah. Harimau Bali dinyatakan punah pada 1930-an, dan harimau Jawa pada 1980-an (Seidensticker, 1987). Subspesies yang tersisa adalah harimau Sumatera. Namun, sudah berstatus nyaris punah.

Populasi harimau sumatera di dunia diperkirakan 600 individu. Populasi captive yang teregistrasi berjumlah 295 individu (Luo et al, 2010) atau lebih dari 291 (Holzer, 2010), dan populasi liar diperkirakan 300 individu (Luo et al, 2010; Seidensticker et al, 2010). Perkiraan populasi liar ini menurun dibandingkan perkiraan Linkie pada  2003 (dalam Ellis, 2005) berkisar 500 individu, Boomgaard (2001) berkisar 400 – 600 individu, Santiapillai and Widodo (1987) kurang dari 800 individu, dan Borner pada 1978 (dalam Ellis, 2005) berkisar 950 individu.

 

Tabel 1: Perkiraan populasi harimau captive berdasarkan region dan subspesies

picture1

Sumber: Holzer, 2010

 

Hampir 50% habitat harimau sumatera berada di Provinsi Aceh, Jambi, Sumatera Selatan dan Bengkulu (Borner dalam Santiapillai and Widodo, 1987). Di Bengkulu, sebagian habitat harimau sumatera telah menjadi bagian Taman Nasional Kerinci Seblat dan Bukit Barisan Selatan. Sebagiannya lagi, Forum Harimau Kita menyebutnya koridor Balai Bukit Rejang Selatan.

Perwakilan Forum Harimau Kita wilayah Provinsi Bengkulu drh. Erni Suyanti Musabine saat ditemui pada akhir Desember 2016 menyebutkan jumlah harimau sumatera di Balai Bukit Rejang Selatan sekitar 30 individu. Sementara itu, Koordinator Pelestarian Harimau Sumatera – Taman Nasional Kerinci Seblat (PHS – TNKS) Wilayah Bengkulu Nurhamidi pada pertengahan Desember 2016 menyebutkan jumlah harimau sumatera di TNKS adalah 166 individu.

Sedangkan Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Bengkulu – Lampung Abu Bakar Chikmad mengungkapkan, populasi harimau sumatera di Provinsi Bengkulu tinggal 17 individu lagi. “Sudah hampir punah, hanya tersisa 17 individu,” ungkap Abu Bakar saat ditemui pada akhir November 2016. Perburuan dan perdagangan illegal, konflik dengan manusia, dan kehilangan habitat merupakan ancaman utama.

 

Perburuan

Ellis (2005) mengungkapkan, Indonesia menjadi eksportir utama untuk tulang harimau dan produk tulang harimau dengan tujuan utama adalah Korea Selatan, Singapura dan Taiwan. “Di Sumatera, gigi, kuku, kumis, ekor, kulit, lemak dan kotoran juga dipercaya memiliki kandungan obat, sedangkan penis dan tulang dipercaya untuk perangsang.”

Sampai 1990-an, tambah Ellis (2005), bagian paling berharga dari harimau Sumatera adalah kulit. Namun, ketika permintaan tulang untuk obat mulai meningkat, kulit, kendati masih berharga, tidak lagi menjadi alasan utama untuk perburuan. Untuk periode 1973–1992, Lilley (dalam Boomgaard, 2001) menyebutkan, Indonesia mengekspor lebih dari 4.000 kg tulang harimau Sumatera. Dengan rata-rata berat tulang 8 kg per harimau, jumlah harimau dibunuh dalam setahun setidaknya 25 individu.

Berburu harimau bukanlah tradisi kerajaan di Pulau Sumatera. “Cenderung tidak ada bukti tentang daerah perburuan ekslusif untuk keluarga kerajaan di Sumatera. Ini mungkin agak mengecewakan bahwa kita tidak mendengar banyak tentang keluarga kerajaan yang berburu harimau di Sumatera,” ungkap Boomgaard (2001). Bukan hanya kerajaaan. Marsden (dalam Boomgaard, 2001) juga mengemukakan, penduduk sumatera tidak suka berburu harimau.

Bangsa Eropa yang mengenalkan perburuan harimau kepada penduduk Sumatera. Di Provinsi Bengkulu, Inggris yang mengenalkan. Namun, belum diketahui kapan Inggris yang mendarat pertama kali di wilayah Bengkulu pada 1685 itu, mulai mengenalkannya. “Kepala-kepala (harimau) sering dibawa untuk menerima hadiah yang diberikan oleh British East India Company karena membunuh mereka (harimau),” tulis Marsden (dalam Boomgaard, 2001).

Kendati demikian, pemberian hadiah tersebut tidak terlalu mendapat respon. “Hadiah uang untuk membunuh harimau di sini, dilakukan oleh Pemerintah seperti di beberapa bagian India, tetapi ini sangat jarang diklaim; Orang-orang Bengkulu terlalu percaya takhayul dan lamban untuk usaha/bisnis,” ungkap Heyne (dalam Boomgaard, 2001) yang berkunjung ke Bengkulu pada 1812.

Pada 1825, wilayah Bengkulu diserahkan oleh Inggris kepada Belanda. Sejak 1640, tulis Boomgaard (2001), Belanda telah memberlakukan pemberian hadiah, namun baru di Batavia. Pemberlakuan mulai meluas ke Sumatera pada 1838. Gubernur Pesisir Barat Sumatera yang pertama kali disetujui untuk memberlakukannya. Baru pada 1846 meluas ke Bengkulu, Lampung dan Palembang.

 

 

foto-dokumen-pelestarian-harimau-sumatera-kerinci-seblat-pelestari-harimau-dari-inggris-mengkuti-tim-phsks-melakukan-patroli-1

Pemerhati harimau sumatera dari Inggris mengikuti tim PHSKS melakukan patroli. Foto: Dokumen PHSKS

 

Pemberian hadiah oleh Belanda juga tidak terlalu direspon oleh penduduk Bengkulu. Boomgaard (2001) mengungkapkan, pada 1895, Residen Bengkulu menulis bahwa dia sangat familiar dengan sebuah kasus dimana seorang pemimpin tua menolak untuk mendapatkan hadiah untuk seekor harimau yang ditangkap, dengan alasan dia tidak ingin menjual leluhurnya.

Tidak terlalu mendapat respon, pemberian hadiah di Sumatera dihapus pada 1897. Residen di Sumatera menyatakan harimau tidak dibunuh karena hadiah. Oleh karena itu, tidak perlu meneruskan sistem hadiah. “Menurut mereka, tidak ada harimau dibunuh karena hadiah yang ditawarkan, janji hadiah juga tidak mendorong terbentuknya kelompok pemburu harimau profesional,” tulis Boomgaard (2001).

Kendati sistem hadiah dihapuskan, tidak berarti pengaruhnya hilang. Sekitar tahun 1935, pesta berburu yang dipimpin oleh seorang pegawai sipil membunuh 70 individu di Bengkulu. Pesta berburu untuk menyikapi  “pandemik harimau” akibat pemasangan racun untuk babi hutan. “Sekitar 1950 disebutkan harimau tidak lagi terlihat di sekitar kota Bengkulu,” kata Boomgaard (2001).

Perburuan harimau untuk diperdagangkan mulai marak di Bengkulu diperkirakan pada 1980-an. Menurut Matthiessen (dalam Ellis, 2005), menipisnya simpanan China atas tulang harimau, menjelaskan kenaikan perdagangan pada akhir 1980-an, dimana perburuan meningkat di India, Bhutan, Indochina, Indonesia dan Timur Jauh Rusia. “Pencarian tulang harimau untuk diekspor ke China daratan dan Taiwan adalah alasan utama banyak harimau dibunuh,” ujar Boomgaard (2001).

 

Terbanyak

Perburuan harimau sumatera di Provinsi Bengkulu sudah sangat mengkhawatirkan. Tilson et al (2010) memperlihatkan, Provinsi Bengkulu adalah provinsi dengan jumlah harimau dibunuh yang terbanyak dibandingkan lima provinsi lainnya di pulau Sumatera pada 1990 – 2000. Sebanyak 215 individu dibunuh di Provinsi Bengkulu atau 35% dari total jumlah enam provinsi (619).

 

Tabel 2: Harimau dilaporkan dibunuh antara 1990 – 2000 di Sumatera, dengan Provinsi

picture2

Sumber: Tilson et al (2010)

 

Dilihat asalnya, menurut Tilson et al (2010), jumlah harimau sumatera yang dibunuh lebih banyak berasal dari taman nasional (369 individu atau 58%) dibandingkan dari luar taman nasional (260 individu atau 42%). TNKS merupakan taman nasional dengan jumlah terbanyak. Yakni, 122 individu atau 33% dari total harimau sumatera dari taman nasional (369).

 

Tabel 3 : Harimau dilaporkan dibunuh antara 1990 – 2000 di Sumatera, di dalam taman nasional dan di luar taman nasional di Hutan Lindung

picture3

Sumber: Tilson et al (2010)

 

Perburuan harimau di Provinsi Bengkulu, tambah Tilson et al (2010), melibatkan 63 orang (24 profesional, 33 amatir dan 6 orang lainnya yang dimungkinkan masuk kategori amatir). Jumlah itu jauh lebih banyak dibandingkan di Lampung yang melibatkan 25 orang (8 profesional dan 27 amatir) dan Sumatera Selatan yang melibatkan 11 orang (2 profesional dan 9 amatir).

Hasil investigasi PHS-TNKS wilayah Bengkulu mengidentifikasi kelompok perburuan harimau di Mukomuko, Bengkulu Utara, Lebong dan Rejang Lebong berkisar 10 – 15. Setiap kelompok berjumlah 2 – 5 orang. Kelompok dibiayai pemodal atau sendiri. “Beberapa pernah sekelompok, kemudian pindah ke kelompok lain atau membentuk kelompok baru bersama anggota kelompok lain atau merekrut anggota baru,” papar Nurhamidi.

Dalam melakukan aktivitas, pelaku melakukan survei terlebih dahulu. Bila dianggap tepat, pelaku memasang tanda atau membuat lobang di areal survei. Kedatangan berikutnya untuk memasang jerat. Bila tidak di pematang yang sempit, jerat akan dipasang dengan membuat jalur khusus. “Ada yang menggunakan umpan dan ada yang tidak. Kalau menggunakan, artinya ingin cepat atau waktunya singkat,” kata Nurhamidi.

Hasil patroli tim PHS-TNKS pada 2015 menemukan 56 jerat aktif, sedangkan pada Januari – November 2016 menemukan 22 jerat aktif. Jerat ditemukan di dalam kawasan TNKS dan kawasan penyangga TNKS. “Untuk indikasi perjumpaan seperti jejak, kotoran, cakar dan suara ditemukan 68 indikasi selama 2015, dan 40 indikasi yang ditemukan selama Januari – November 2016,” tambah Nurhamidi.

Selain harga jual, intensitas perburuan dipengaruhi musim dan kondisi perekonomian seperti musim kemarau panjang dan harga komoditi pertanian anjlok. Masa puasa dan lebaran juga cenderung memacu intensitas. “Kini, pelaku sudah mulai membeli informasi dari penduduk, seperti informasi mengenai jejak. Berita tentang konflik harimau dan manusia di media massa juga sudah menjadi sumber informasi  bagi mereka,” ujar Nurhamidi.

Bagian tubuh harimau Sumatera dijual untuk beragam keperluan, Seperti bahan pembuatan obat, prestise kalangan tertentu, spiritual atau magic dan terindikasi pula untuk ritual budaya. “Ada informasi kepala dijual untuk pembuatan reog. Apakah benar untuk reog atau sekadar alasan saja, masih kami pelajari. Yang jelas, hampir semua bagian harimau dijual. Mulai dari kuku, gigi, tulang, kulit, hingga kumis,” papar Nurhamidi.

Kelompok AA, warga Desa Pondok Baru dan Sn, warga Desa Sungai Ipuh, Kabupaten Mukomuko yang ditangkap tim PHS-TNKS Wilayah Bengkulu bersama Polres Mukomuko pada Jumat (8/1/2016) merupakan salah satu kelompok perburuan yang aktif. Sejak beroperasi pada 2011 atau selama lima tahun beroperasi, mereka telah membunuh delapan ekor harimau sumatera.

“Vonis berat untuk pelaku sangat penting untuk menekan aktivitas perburuan harimau. Vonis berat akan menimbulkan efek jera bagi pelaku dan pemburu yang lain. Dampak vonis berat itu bisa dilihat dari temuan jerat. Pada 2015, sebanyak 56 jerat aktif yang ditemukan. Sedangkan pada Januari – November 2016, sebanyak 22 jerat. Terjadi penurunan hampir 50%,” kata Nurhamidi.

 

Konflik

Membunuh manusia merupakan ekspresi terakhir dari konflik harimau – manusia (McDougal, 1987). Menurut Boomgaard (2010), ada enam tipe harimau membunuh manusia. Yakni, (1) Oportunistik; (2) Struktural; (3) Periodik atau bencana; (4) Kekacauan masyarakat, (5) Individual dan (6) Keputusasaan. Oportunistik terjadi ketika manusia merupakan satu-satunya mangsa bagi harimau.

Sedangkan tipe struktural terjadi ketika alam/habitat harimau secara konstan diinvasi oleh manusia. Ini adalah kasus ketika lahan dalam skala luas dibersihkan terkait pertambahan penduduk yang cepat, imigrasi dan ekspansi perusahaan komersil (perkebunan). Sementara itu, tipe periodik terjadi ketika bencana alam yang mengakibatkan hewan mangsa harimau berkurang.

Untuk tipe kekacauan masyarakat terjadi pada kasus tertentu dari bencana. Seperti perang, pemberontakan, epidemik skala luar. Selanjutnya, tipe individual terjadi karena harimau sudah terlalu tua atau sudah tidak mampu memburu mangsa kecuali manusia. Dan, tipe keputusasaan terjadi ketika kelompok harimau menyerang pemukiman atau dikenal dengan istilah wabah harimau.

Di Sumatera, Boomgaard (2001) mengungkapkan, rata-rata tahunan jumlah manusia dibunuh harimau pada 1850-an sebanyak 400 orang, pada 1862-81 sebanyak 180 orang, dan pada 1882-1904 sebanyak 60 orang. Khusus Bengkulu, 100 orang dibunuh pada periode 1818 – 1855. Kebanyakan korbannya adalah orang China dan Jawa, dan buruh perkebunan. “Seakan-akan agresi harimau adalah masalah struktural,” terang Boomgard.

 

Tabel 4: Rata-rata Tahunan Jumlah Manusia Dibunuh oleh Harimau

picture4

Sumber: Boomgaard (2001)

 

Tidak banyak jumlah penduduk lokal yang dibunuh bisa dipahami terkait kepercayaan tentang roh leluhur yang merasuk atau menjelma harimau. Catatan Raffles (dalam Boomgaard, 2001) tentang penduduk lokal berkomunikasi untuk menyampaikan permohonan kepada harimau agar tidak diserang, setidaknya bisa menjelaskan pengaruh kepercayaan tersebut terhadap keselamatan penduduk lokal.

 

Tabel 5: Rata-rata Tahunan Jumlah Manusia Dibunuh oleh Harimau di beberapa Residen di Sumatera, 1818 – 1855

picture5

Sumber: Boomgaard (2001)

 

“Saat melewati hutan, datang seekor harimau, siap menyerang di jalan kecil, mereka tiba-tiba berhenti dan menyampaikan permohonan, menyakinkan bahwa mereka orang miskin yang membawa barang Tuan Besar (Raffles), yang akan marah bila mereka tidak tiba tepat waktu, oleh karena itu, mereka memohon agar diberi jalan dan tidak diganggu. Harimau, yang terkejut oleh kehadiran mereka, berdiri dan berjalan dengan tenang ke dalam hutan.”

Sophia Raffles (dalam Boomgaard, 2001) juga menuliskan tindakan penduduk lokal bila harimau masuk ke pemukiman. “Ketika seekor harimau masuk ke sebuah desa, penduduk sangat sering menyiapkan beras dan buah-buahan, dan meletakkannya di jalan masuk sebagai persembahan untuk harimau, dipahami bahwa, dengan memberikan dia sambutan yang ramah, dia akan merasa senang dengan perhatian mereka, dan pergi tanpa menyerang.”

Heyne (dalam Boomgaard, 2001) juga mengungkapkan, “Bagian dari persembahan mereka, melihat hewan ganas (harimau) dengan perasaan hormat, bahkan mungkin dengan perasaan bangga, menghidupkan roh leluhur dan kerabat mereka”. Lalu, Martens (dalam Boomgaard, 2001) menuliskan, masyarakat adat percaya bahwa roh leluhur mereka merasuk ke harimau. Bila seorang anak dibunuh oleh harimau, mereka mengatakan anak tersebut dipanggil oleh kakeknya. Mereka tidak keberatan dan tidak ingin membalas.

Nyhus and Tilson (2010) mengemukakan, tidak ada satu penjelasan yang tepat untuk menjelaskan konflik. Beberapa hipotesis umum menjelaskan mengapa harimau menyerang manusia meliputi: mangsa berkurang atau ketidakmampuan memburu mangsa secara efektif, kelaparan, usia tua, sakit atau terluka, belajar dari pengalaman individual atau orangtua, tidak dapat mempertahankan jalur jelajah, dan keengganan atau ketidakefektifan membalas.

”Di Sumatera, kami menemukan bahwa harimau menyerang manusia cenderung terjadi ketika penduduk terlibat dalam aktivitas dekat pinggiran hutan, khususnya pertanian dan perkebunan swasta dan area dengan gangguan tinggi dan menengah”. Kecenderungan terjadinya konflik struktural ini, ungkap Boomgaard (2010), karena harimau adalah hewan yang mengikuti budaya atau pengikut budaya. Bahwa harimau mendekat habitat yang dibangun manusia.

Di Bengkulu, Erni Suyanti Musabine menambahkan, hampir semua konflik harimau-manusia terjadi di kawasan pertanian dan perkebunan swasta yang dekat kawasan hutan. Tercatat 8 orang meninggal dalam 125 konflik yang terjadi antara 2007 – 2014. “Alih fungsi lahan atau hutan menjadi pemukiman, pertanian, perkebunan, dan juga pertambangan menjadi penyebab utama. Karena itu, sangat penting bagi pemerintah untuk melakukan analisis secara komprehensif sebelum mengeluarkan kebijakan,” kata Yanti, biasa disapa.

Dari catatan dokter hewan BKSDA Bengkulu – Lampung ini, konflik terbanyak terjadi di Seluma, yakni 36,8%. Selanjutnya, di Kaur dan Lebong, masing-masing 23,5%, Bengkulu Utara 19,1%, Mukomuko 8,8%, Kepahiang dan Bengkulu Tengah masing-masing 4,4%, Bengkulu Selatan 1,5%, sedangkan Rejang Lebong nihil. “Kesadaran dan keterlibatan masyarakat terkait mitigasi konflik juga sangat penting ditingkatkan. Termasuk memfasilitasi nomor hotline untuk cepat menginformasikan bila terjadi konflik,” tambah Yanti.

Pihak lain yang penting untuk dilibatkan, tambah Yanti, adalah perusahaan swasta. Mengingat sejumlah konflik juga terjadi di kawasan perkebunan swasta seperti di Kaur, Seluma, Bengkulu Tengah dan Mukomuko. “Selama ini sektor swasta tidak pernah dilibatkan. Padahal, mereka juga berkepentingan dan mungkin memiliki sumber daya yang cukup untuk mendukung pelestarian harimau sumatera. Paling tidak, ketika ada harimau masuk ke kawasan perkebunan, mereka bisa bertindak dengan tepat,” ujar Yanti.

 

foto-dokumen-pelestarian-harimau-sumatera-kerinci-seblat-harimau-sumatera-terkena-jerat-di-kawasan-kawasan-hutan-produksi-terbatas-air-rami-kabupaten-mukomuko-5

Harimau sumatera terkena jerat di kawasan Hutan Produksi Terbatas Air Rami, Kabupaten Mukomuko. Foto: Dokumen PHSKS

 

Fatwa MUI

Direktur Lingkar Institut Iswadi menambahkan, peran ulama atau dai juga bisa dioptimalkan untuk mendukung pelestarian harimau sumatera. Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 4 Tahun 2014 Tentang Pelestarian Satwa Langka Untuk Mendukung Keseimbangan Ekosistem bisa menjadi landasannya. Apalagi, fatwa tersebut merekomendasikan ada Dai lingkungan. “Peluang ini akan kami maksimalkan. Untuk tahap awal akan dilakukan di Lebong,” kata Iswadi.

Referensi:

Boomgaard, Peter, “Frontiers of Fear: Tigers and People in The Malay World, 1600-1950”, 2001.

Boomgaard, Peter, “Coexistence in Comparative Asian Perspective” dalam Tilson, Ronald and Nyhus, Philip J. (Eds.), “Tigers of the World: The Science, Politics, and Conservation of Panthera tigris”, 2010.

Ellis, Richard, “Tiger Bone & Rhino Horn: The Destruction of Wildlife for Traditional Chinese Medicine”, 2005.

Holzer, Kathy Traylor, “The Science and Art of Managing Tigers in Captivity” dalam Tilson, Ronald and Nyhus, Philip J. (Eds.), “Tigers of the World: The Science, Politics, and Conservation of Panthera tigris”, 2010.

Luo, Shu-Jin et al, What Is a Tiger? Genetics and Phylogeography dalam Tilson, Ronald and Nyhus, Philip J. (Eds.), “Tigers of the World: The Science, Politics, and Conservation of Panthera tigris”, 2010.

McDougal, Charles, “The Man-Eating Tiger in Geographical and Historical Perspective” dalam Tilson, Ronald and Haber, Ulysses, “Tigers of the World: The Biology, Biopolitics, Management and Conservation of an Endangered Specie, 1987.

Nyhus, Philip J and Tilson, Ronald, “Panthera tigris vs homo sapiens: conflict, coexistence, or extinction” dalam Tilson, Ronald and Nyhus, Philip J. (Eds.), “Tigers of the World: The Science, Politics, and Conservation of Panthera tigris”, 2010.

Santiapillai, Charles and Ramono, Widodo Sukohadi, “Tiger Numbers and Habitat Evaluation in Indonesia” dalam Tilson, Ronald and Haber, Ulysses, “Tigers of the World: The Biology, Biopolitics, Management and Conservation of an Endangered Specie, 1987.

Seidensticker, John, “Bearing Witness: Observations on the Extinction of Panthera tigris balica and Panthera tigris sondaica” dalam Tilson, Ronald and Haber, Ulysses, “Tigers of the World: The Biology, Biopolitics, Management and Conservation of an Endangered Specie, 1987.

Seidensticker, John et al, “How Many Wild Tigers ArecThere? An Estimate for 2008” dalam Tilson, Ronald and Nyhus, Philip J. (Eds.), “Tigers of the World: The Science, Politics, and Conservation of Panthera tigris”, 2010.

Tilson, Ronald and Nyhus, Philip J, ”The Biology and Politics of Sumatran Tigers: Crash of the Conservation Garuda”dalam Tilson, Ronald and Nyhus, Philip J. (Eds.), “Tigers of the World: The Science, Politics, and Conservation of Panthera tigris”, 2010.

Catatan: Tulisan ini dikemas ulang dari Nestapa Hidup Harimau Sumatera, Diburu hingga Menuju Kepunahan (Bagian 2) (http://www.mongabay.co.id/2017/01/11/nestapa-hidup-harimau-sumatera-diburu-hingga-menuju-kepunahan-bagian-2/) dan catatan pribadi.

 

Advertisements

About dedek hendry

Seorang warga yang belajar menjadi jurnalis sejak tahun 2004, yang tercatat sebagai anggota The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) Bengkulu dan Ketua Aliansi Jurnalis Independen (The Alliance of Independent Journalists) Bengkulu. Pernah menjadi Reporter dan Editor untuk Rakyat Bengkulu, Pemimpin Redaksi untuk Radar Bengkulu, Inisiator jurnalisme komik lingkungan hidup (Konteks) di Bengkulu dan jurnalisme warga (perempuan) Lentera Perempuan, dan kini menjadi kontributor (freelance journalist) untuk Mongabay Indonesia. Gunung Itu Bernama Jurnalisme. Puncaknya: Kebebasan dan Kebahagiaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: