you're reading...
Masyarakat Adat

Menyaksikan Ritual Adat Rejang “Kedurai Agung” di Bandar Agung

Saya sampaikan permintaan maaf dan permohonan agar para leluhur menjaga kesehatan dan keselamatan kami, serta meminta agar menjaga kebun dan ternak kami dari serangan berbagai hama dan penyakit — Cong Pin

dsc01143

Sungea dan Acak yang diletakan di pinggir Sungai Air Ketahun. Foto: Nurkholis Sastro

Pada 6 Desember 2007, saya berkesempatan menyaksikan ritual adat Rejang yang disebut Kedurai Agung yang dilakukan warga Desa Bandar Agung, Kabupaten Lebong (kini Desa Tik Sirong). Desa Bandar Agung merupakan salah satu desa yang bersentuhan dengan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), satu dari tiga taman nasional di Pulau Sumatera yang ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia (Tropical Rainforest Heritage of Sumatra).

Ritual adat dilakukan untuk berkomunikasi dengan para leluhur guna menyampaikan permintaan maaf dan permohonan agar dijaga dari malapetaka dan bencana. Tulisan yang telah diterbitkan di Harian Rakyat Bengkulu pada 7-8 Desember 2007 ini sengaja dipublikasikan ulang agar bisa menjadi dokumentasi alternatif.

Cong Pin (68), juru kuncen ritual Kedurai Agung, terlihat agak gelisah. Setelah mengecek satu persatu seluruh kebutuhan ritual yang disiapkan di ruang tamu rumah Kepala Desa Bandar Agung Busroni, dia meminta seluruh peserta ritual untuk berkumpul. Dia meminta agar seluruh peserta bisa mengikuti ritual secara tertib dan tidak membuat kesalahan. Hasil komunikasinya dengan para leluhur meminta agar pelaksanaan ritual dilakukan secara serius.

“Saya minta saat pelaksaannnya, tidak ada dikeluarkan perkataan ataupun dilakukan perbuatan yang meremehkan para leluhur. Ini permintaan mereka, karena ritual ini sudah lama tidak dilaksanakan. Jadi, kalau memang kita semua siap untuk memenuhi permintaan tersebut, ritual bisa kita mulai,” ujar Cong Pin agak terbata-bata dan gemetar yang disambut jawaban siap dari warga.

Kedurai Agung merupakan tradisi turun temurun yang dilakukan masyarakat Adat Rejang untuk berkomunikasi dengan para leluhur. Dalam berkomunikasi tersebut, masyarakat akan meminta agar leluhurnya melindungi mereka dari berbagai bencana. Baik bencana alam, penyakit maupun serangan hama dan penyakit terhadap ternak dan tanaman.

“Kami sengaja melaksanakannya pada hari ini karena hari ini merupakan hari ke-16 bulan Apit. Bulan Apit, menurut kepercayaan kami, merupakan bulan datangnya berbagai hama dan penyakit yang menyerang manusia dan mahluk lain. Jadi, setelah melaksanakan ritual ini, akan muncul harapan di dalam diri kami kalau kehidupan yang akan dijalani setahun ke depan berjalan dengan baik,” terang Busroni menuju pinggiran sungai Ketahun, lokasi ritual dilaksanakan.

Cukup banyak bahan dan alat yang diperlukan. Seperti benang 3 warna, yakni hitam, merah dan putih sepanjang 3 jengkal tangan ditambah 9 kali 3 jari orang tua dan digulung. Jeruk nipis 99 buah, rokok kretek 99 batang. Bunga 3 warna, meliputi cempaka, ros dan melati. Daun sirih masak dan mentah, masing-masing 9 lembar. Beras kunyit 198 butir untuk ditaburkan dan 19 butir untuk sesajen. 3 ruas batang bambu, satu diantaranya diisi air kelapa dan duanya diisi santan. Darah dan hati serta jantung ayam yang berumur 2 bulan. Sebagian dari hati dan jantung itu dimasak. 1 Punjung nasi kunyit serta kue sabai besar 9 buah dan kue sabai kecil 99 buah.

Peralatannya adalah 1 buah acak (tempat sesajen diletakkan) yang terbuat dari 1 ruas batang bambu yang dibelah menjadi dua bagian dan setiap bagian dibelah lagi menjadi 9 bagian dan disusun membentuk bujur sangkar. 1 buah sungea (tempat acak) yang terbuat 1 ruas bambu yang dibelah menjadi 4, tetapi tidak sampai lepas, dan masing-masing ujung belahan dilengkungkan ke tanah.

dsc01136

Cong Pin melaksanakan ritual adat. Foto : Nurkholis Sastro

Selain itu, 2 buah takia (tempat darah) yang terbuat dari bambu, tutup punjung dan sejumlah alas lainnya yang terbuat dari daun pisang. “Walaupun untuk mempersiapkannya dilakukan secara bersama-sama. Namun, untuk bahan yang dimasak, pemasaknya tidak boleh sembarangan. Pilihannya, pemuda yang belum menikah atau ibu yang sudah tidak mengalami masa haid lagi,” terang Busroni didampingi istrinya, Kastijah.

Di pinggir sungai, Cong Pin didampingi Saraya (78), keturuan juru kuncen, duduk di atas terpal plastik berwarna hijau. Di samping kirinya duduk 2 orang gadis dan 2 orang bujang serta di hadapannya terletak bahan-bahan yang diperlukan. Beberapa meter di depannya dipasang sungea yang di atasnya diletakkan acak yang bersisi nasi kunyit beserta hati dan jantung ayam, dan 2 buah takia berisi darah ayam.

Cong Pin memulai ritual dengan membakar kemenyan. Setelah itu, dia memusatkan pikiran dan berkomunikasi memanggil para leluhur. Namun tiba-tiba tubuhnya bergetar dan proses pelaksanaan ritual dihentikan sambil meminta warga memasang kain berbentuk bendera berwarna putih beberapa meter di depannya.

“Saat itu, saya merasa tubuh saya membesar dan saya melihat semua orang di sekeliling saya hanya sebesar semut. Saya berfirasat, kalau tetap diteruskan akan menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan. Oleh karena itu, saya hentikan dan minta agar dipasangkan bendera putih untuk memberitahu bahwa mereka dipanggil bukan karena ada sesuatu yang gawat atau bukan karena kami ingin mengajak berperang,” terang Cong Pin usai ritual dilakukan.

Setelah bendera dipasang, prosesi yang sempat terhenti hampir mencapai 30 menit diteruskan. Cong Pin kembali membakar kemenyan. Sambil memegang satu buah piring putih berisi 1 buah kue sabai besar di tangan kanan, satu buah gelas berwarna kuning berisi 198 butir beras kunyit di tangan kiri, dia kembali berkomunikasi dengan leluruhnya sambil menggerakan tangannya mengitari arang tempat kemenyan dibakar untuk mengasapinya.

Tak lama kemudian, Cong Pin meletakkan piring dan menggunakan tangan kanan mengambil butiran beras untuk disebarkan. Setelah itu, Cong Pin mengambil 3 buah jeruk nipis dimasukkan dalam mangkok kecil berwarna putih. Sambil terus berkomunikasi, Cong Pin menggerakan mangkok mengitari arang bakaran kemenyan. Setelah itu, jeruk tersebut digabungkan kembali bersama dengan 96 jeruk lainnya. Kemudian Cong Pin berkomunikasi kembali untuk menutupi prosesi ritual. “Saya sampaikan permintaan maaf dan permohonan agar para leluhur menjaga kesehatan dan keselamatan kami, serta meminta agar menjaga kebun dan ternak kami dari serangan berbagai hama dan penyakit,” tambah Cong Pin.

dsc01144

Warga menyaksikan proses ritual adat. Foto: Nurkholis Sastro

Kecuali, 9 buah kue sabai besar, 9 batang rokok kretek, 9 lembar sirih masak, 9 butir beras kunyit, bunga 3 warna, 3 batang bambu berisi air kelapa dan santan, 2 buah takea berisi darah ayam, serta sepotong hati dan jantung ayam yang diletakkan pada acak di atas sungea untuk dijadikan sesajen, seluruh bahan dibawa kembali ke rumah. “Biasanya, pada malam hari air sungai akan menghantam sungea sehingga acak jatuh ke sungai. Mengapa ritual ini dilakukan di pinggir sungai? Menurut kepercayaan kami, air merupakan jalan bagi para leluhur kami,” terang Busroni.

Di rumah, nasi kunyit beserta ayam dan jantung yang telah dimasak dimakan secara bersama-sama. Benang tiga warna, kue sabai kecil, jeruk nipis dipotong kecil-kecil disesuaikan dengan jumlah warga desa untuk dibagikan secara merata. Kue sabai untuk dimakan, jeruk nipis digunakan untuk keperluan mandi, dan benang tiga warna untuk dipergunakan menjadi cincin, gelang atau dipasang di pintu depan rumah warga.

Selain itu, dibuat campuran air dengan arang lemen dan tepung beras untuk dipercikkan ke warga. Air campuran arang dipercikan ke pundak sebelah kiri, dan air campuran tepung beras ke pundak sebelah kanan, dan dua air campuran itu dipercikan ke kening seluruh warga. “Biasanya, para leluhur akan memberitahukan kalau telah menerimanya melalui mimpi. Atau tanda-tanda lain seperti tiba-tiba mengalami kondisi tidak sadar atau senyap. Mudah-mudahan, permintaan maaf dan permohonan kami diterima para leluhur kami,” kata Cong Pin.

Advertisements

About dedek hendry

Gunung Itu Bernama Jurnalisme. Puncaknya: Kebebasan dan Kebahagiaan.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: