you're reading...
Keanekaragaman Hayati, Lingkungan Hidup

Konservasi In-Situ Rafflesia Perlu Diperluas ke Lahan Penduduk

Tidak semua habitat rafflesia ditemukan di kawasan taman nasional, cagar alam atau hutan lindung, tetapi juga ditemukan di lahan milik penduduk, baik dekat ataupun jauh dari pemukiman. Oleh karena itu, upaya konservasi in-situ atau habitat asli rafflesia perlu diperluas ke lahan milik penduduk.

“Ada tiga ancaman kelestarian rafflesia di lahan milik penduduk. Lahan dikonversi menjadi lahan perkebunan, perusakan atau pemotongan inang, dan banjir atau longsor,” ujar Peneliti Rafflesia dari Universitas Bengkulu Agus Susatya kepada Mongabay Indonesia di ruang kerjanya, Kamis (21/7/16).

DSC_0224

Rafflesia bengkuluensis berdiameter 45 cm mekar di Padang Guci Hulu pada 22 Februari 2014. Foto: http://kompalarafflesia.blogspot.co.id

 

Umumnya, sambung Wakil Ketua Forum Komunikasi Riset dan Pengembangan Rafflesia dan Amorphophallus ini, habitat rafflesia di lahan milik penduduk berada di bagian lahan yang terjal atau curam, berukuran tidak begitu luas, dan kurang produktif atau menguntungkan untuk ditanami tanaman perkebunan.

“Pemilik lahan yang menjadi faktor penentu keberhasilan. Pendekatannya sangat personal, persuasif dan dengan pemberian bantuan bibit dan semacam kompensasi. Kalaulah dilakukan penghitungan, kemungkinan biaya yang dibutuhkan untuk melakukannya tidaklah begitu besar,” terang Agus.

Teknik konservasinya, tambah Ketua Pusat Kajian Keragaman dan Konservasi Hayati Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu ini, bisa menggunakan teknik zonasi. Dengan membagi lahan milik penduduk menjadi 4 zona. Meliputi zona inti, transisi, penyangga dan zona produktif. Teknik zonasi dilakukan untuk memenuhi kepentingan ekologi dan ekonomi.

“Pada zona inti, campur tangan pemilik lahan dibuat seminim mungkin. Ini diperlukan untuk menjaga komunitas tumbuhan dan lingkungan yang cocok untuk rafflesia. Lahan untuk zona inti tidak harus luas, bisa kurang dari 0,1 ha. Lahan yang pernah ditemukan rafflesia yang ditetapkan menjadi zona inti,” ujar Agus.

Untuk zona transisi, lanjut Koordinator Jejaring Perubahan Iklim dan Kehutanan Wilayah Sumatera ini, campur tangan pemilik lahan sudah bisa sedikit intensif. Pemanfaatan lahan sudah bisa dilakukan, namun terbatas. Agroforestry dengan menjaga struktur dan komunitas tumbuhan semirip mungkin dengan zona inti bisa dilakukan pada zona transisi.

“Untuk zona penyangga, campur tangan pemilik lahan sudah bisa semakin intensif. Agroforestry dengan komposisi tanaman pertanian atau perkebunan lebih dominan bisa dilakukan pada zona penyangga. Sedangkan pada zona produktif, pemilik lahan bisa memanfaatkannya secara leluasa,” imbuh Agus.

Upaya konservasi in-situ rafflesia dengan teknik zonasi, tambah penemu Rafflesia bengkuluensis dan Rafflesia lawangensis ini, bisa diintegrasikan dengan ekowisata. Namun, rafflesia hendaknya tidak dianggap sebagai satu-satunya objek wisata. Tetapi sebagai flag species atau objek utama yang dikaitkan dengan objek lainnya.

“Seperti wisata lingkungan atau pemandangan alam, agrowisata misalnya kebun durian, dan wisata kuliner. Langkah mengintegrasikannya memang tidak mudah. Perlu melibatkan penduduk lain dan banyak pihak dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Namun, bukan berarti tidak mungkin untuk dilakukan,” ujar Agus.

Kelapa Sawit Mulai Mengancam

Dari 25 jenis rafflesia di dunia, sebanyak 12 jenis dapat dijumpai di Indonesia dengan 10 diantaranya ditemukan di Sumatera. Dari 10 jenis yang ditemukan di Sumatera, 4 jenis diantaranya sering ditemukan di lahan penduduk di Provinsi Bengkulu. Yakni, Rafflesia arnoldii, Rafflesia hasseltii, Rafflesia gadutensis dan Rafflesia bengkuluensis.

Salah satu wilayah yang sering ditemukan Rafflesia arnoldii dan Rafflesia bengkuluensis di lahan penduduk adalah Kecamatan Padang Guci Hulu, Kabupaten Kaur. “Sepanjang tahun 2014, sebanyak 25 rafflesia mekar meliputi 10 Rafflesia arnoldii dan 15 Rafflesia bengkuluensis, selama 2015 sebanyak 15 rafflesia meliputi 8 Rafflesia arnoldii dan 7 Rafflesia bengkuluensis. Untuk tahun ini, baru 2 Rafflesia arnoldii,” kata Ketua Komunitas Pemuda Padang Guci Peduli Puspa Langka, Noprianto, Sabtu (23/7/16).

Noprianto tidak menampik konversi lahan menjadi perkebunan menjadi ancaman serius. Bukan hanya kopi, sebagian penduduk mengonversi lahan menjadi perkebunan kelapa sawit. “Tak banyak yang bisa kami lakukan. Hanya persuasif. Kalau saja pemerintah atau pihak lain bersedia memberikan bantuan atau kompensasi agar tidak semua lahan dijadikan kebun, saya optimis pemilik lahan akan bersedia,” ujar Noprianto.

Terkhusus Rafflesia bengkuluensis, sambung Noprianto, sepengetahuannya baru ditemukan di wilayah Padang Guci Hulu. Belum pernah terdengar ditemukan di wilayah lain baik di Provinsi Bengkulu maupun di luar Provinsi Bengkulu. Sehingga, bukan tidak mungkin Rafflesia bengkuluensis merupakan rafflesia endemik Provinsi Bengkulu.

“Upaya konservasi Rafflesia bengkuluensis perlu mendapatkan prioritas. Sayangnya, belum banyak pihak yang memberikan perhatian, termasuk pemerintah daerah. Kalau saja upaya konservasinya dilakukan dengan menghubungkannya dengan pengembangan sektor pariwisata, maka Padang Guci Hulu bisa menjadi salah satu daerah tujuan wisata baru,” kata Noprianto.

Rafflesia bengkuluensis ditemukan pertama kali oleh Agus Susatya dkk pada tahun 2005 di hutan sekunder muda dengan vegetasi yang tersusun dari vegetasi hutan dan kebun di Desa Talang Tais, Kecamatan Kelam Tengah, Kabupaten Kaur. Inang jenis ini adalah Tetrastgima tuberculatum dan inang strukturalnya adalah Micromelum menutum dan Rinorea anguifera. Rafflesia bengkuluensis mempunyai laju kematian sangat tinggi berkisar antara 80 – 100 %. Kuncup dapat mati semua dalam jangka waktu dua bulan.

 

Tulisan ini dikemas ulang dari catatan pribadi dan Konservasi Rafflesia Memang Penting Dilakukan, Mengingat… http://www.mongabay.co.id/2016/07/25/konservasi-rafflesia-memang-penting-dilakukan-mengingat/

Advertisements

About dedek hendry

Gunung Itu Bernama Jurnalisme. Puncaknya: Kebebasan dan Kebahagiaan.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: