you're reading...
Keanekaragaman Hayati

Meski Tidak Alami Gangguan Manusia, Rafflesia Tetap Sangat Rentan Punah

“Meskipun tidak mengalami gangguan akibat aktivitas manusia, populasi rafflesia akan cenderung turun atau sangat rentan mengalami kepunahan. Itu dikarenakan sedikit kuncup yang hidup dan menjadi bunga, dan sedikit bunga yang menjadi buah, serta sedikit biji yang berubah menjadi kuncup” – Agus Susatya

 

Rafflesia, puspa langka dan terbesar di dunia, merupakan puspa yang sangat rentan mengalami kepunahan. Bukan hanya akibat gangguan aktivitas manusia dan tingkat kematian rafflesia cukup tinggi, kerentanan tersebut juga disebabkan faktor biologis dan reproduksi rafflesia. Bahkan, tidak mengalami gangguan aktivitas manusia pun, rafflesia tetap sangat rentan mengalami kepunahan.

“Meskipun tidak mengalami gangguan akibat aktivitas manusia, populasi rafflesia akan cenderung turun atau sangat rentan mengalami kepunahan. Itu dikarenakan sedikit kuncup yang hidup dan menjadi bunga, dan sedikit bunga yang menjadi buah, serta sedikit biji yang berubah menjadi kuncup,” kata Peneliti Rafflesia dari Universitas Bengkulu, Agus Susatya.

Dari aspek aktivitas manusia, ancaman kepunahan rafflesia dipicu oleh pemotongan inang, pembalakan liar dan perladangan yang tidak mendukung siklus hidup Rafflesia. Sementara dari aspek kematian, antara lain akibat terinjak babi hutan, kucing hutan, rusa dan muncak, bunga rafflesia dimakan oleh tupai dan landak, serta perusakan kuncup atau bunga oleh manusia jahil.

Sedangkan dari aspek biologis karena rafflesia bersifat holoparasit, sehingga sangat tergantung dengan inangnya. Di lain sisi, kehidupan inang rafflesia juga sangat tergantung dengan tumbuhan lainnya yang menjadi inang strukturalnya. Dan dari aspek reproduksi, rafflesia memerlukan bunga jantan dan betina yang mekar agar terjadi penyerbukan, dan agen penyerbukannya.

“Padahal, sangat jarang ditemukan bunga jantan dan betina yang mekar saat bersamaan dalam satu lokasi. Ironisnya lagi, tidak semua bunga betina yang mengalami penyerbukan akan menghasilkan biji buah yang terletak di dasar mahkota bunga,” terang Agus Susatya.

Rafflesia merupakan tumbuhan yang sangat unik. Tidak memiliki akar, batang dan daun, rafflesia hanya berupa kuncup atau bunga dan dilengkapi haustorium yang memiliki fungsi mirip akar yang menghisap sari makanan hasil fotosintesis dari tumbuhan inang. Sehingga, rafflesia digolongkan sebagai tumbuhan holoparasit.

Inang rafflesia merupakan liana atau tumbuhan berkayu yang merambat dan memerlukan inang struktural dari tumbuhan lainnya sebagai tumpuan untuk merambat. Inang Rafflesia berasal dari genus Tetrastigma. Dari 97 jenis Tetrastigma di Asia, hanya 10 jenis yang tercatat menjadi inang Rafflesia. Yaitu, T. tuberculatum, T. curtisii, T. pedunculare, T. scortechinii, T. diepenhorstii, T. papillosum, T. quadrangulum, T. harmandii dan T. loheri.

Siklus hidup rafflesia bisa mencapai 5 tahun dan terdiri dari 7 fase, meliputi proses penyerbukan, pembentukan buah dan biji, penyebaran biji, inokulasi biji ke inang, kemunculan kuncup bunga atau knop, kuncup yang matang dan bunga mekar. Kuncup rafflesia tumbuh di akar atau batang inang. Sehingga, bisa ditemui tumbuh di permukaan tanah atau menggantung di batang inang. Kuncup yang menggantung disebut juga aerial bud.

Masa mekar rafflesia berlangsung antara 3 – 8 hari. Saat musim kemarau, bunga akan mekar pada hari terjadi hujan. Sedangkan saat musim penghujan, bunga akan mekar pada hari tidak tejadi hujan. Saat mekar, bau daging busuk akan tercium dan mengundang banyak lalat. Lalatlah yang membantu penyerbukan bunga rafflesia. Setelah mekar, mahkota bunga membusuk. Namun bagian dasar bunga rafflesia betina akan membentuk buah. Waktu yang diperlukan buah untuk matang berkisar 6 hingga 8 bulan.

Di dalam buah terdapat banyak biji yang berbentuk polong atau kacang-kacangan. Kulit bijinya sangat keras dan sulit pecah. Bila tidak mati, biji akan menginokulasi ke inang. “Namun, bagaimana proses inokulasi biji dan perkembangan biji dalam tubuh inang masih misteri,” ujar Agus Sustya yang juga penemu Rafflesia bengkuluensis dan Rafflesia lawangensis ini.

Hingga saat ini spesies rafflesia di dunia tercatat sebanyak 25 jenis. Meliputi Rafflesia arnoldii, Rafflesia patma Blume, Rafflesia manillana Teschermacher, Rafflesia rochessenii Teijsmann & Binnendjik, Rafflesia tuan mudae Beccari, Rafflesia hasseltii Suringar, Rafflesia schadenbergiana Goeppert, Rafflesia cantleyi Solms-Laubach, Rafflesia atjehensis Koorders, Rafflesia zollingeriana Koorders, Rafflesia gadutensis Meijer dan Rafflesia keithii Meijer.

Lalu, Rafflesia kerrii Meijer, Rafflesia micropylora Meijer, Rafflesia pricei Meijer, Rafflesia tengku-adlini Mat-Saleh & Latiff, Rafflesia spesiosa Barcelona & Fernando, Rafflesia azlanii Latiff & Wong, Rafflesia mira Fernando & Ong, Rafflesia bengkuluensis Susatya, Arianto & Mat-Saleh, Rafflesia baletei Barcelona & Cajano, Rafflesia lobata Galang & Madulid, Rafflesia leonardi Barcelona & Pelser, Rafflesia aurintia Barcelona et al, dan Rafflesia lawangensis Mat-Saleh, Mahyuni & Susatya.

Sebaran geografis rafflesia di bagian barat Garis Wallace mulai dari perbatasan Burma dan Thailand, Semenanjung Malaysia, Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Filipina. Dari 25 jenis tersebut, 12 jenis dapat dijumpai di Indonesia. Sementara di Pulau Sumatera bisa dijumpai 10 jenis.

“Yakni, Rafflesia arnoldii, Rafflesia atjehensis, Rafflesia rochussenii, Rafflesia micropylora, Rafflesia hasseltii, Rafflesia gadutensis, Rafflesia tuan-mudae, Rafflesia patma, Rafflesia bengkuluensis dan Rafflesia lawangensis,” ujar penulis buku “Rafflesia: Pesona Bunga Terbesar di Dunia” ini.

 

25 Jenis Rafflesia di Dunia

No Jenis Catatan
1 R. arnodii R. Br Brown (1821), Pulau Lebar, Bengkulu Selatan, Bengkulu
2 R. patma Blume Blume (1825), Nusa Kambangan, Jawa Tengah
3 R. manillana Teschermacher Teschermarcher (1825), Pulau Leyte, Philipina
4 R. rochessenii Teijsmann & Binnendjik Teijsmann & Binnendjik (1850), Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat
5 R. tuan mudae Beccari Beccari (1868), Gunung Peuh, Serawak
6 R. hasseltii Suringar Suringar (1879), Muara Labuh, Sumatera Barat
7 R. schadenbergiana Goeppert Goeppert (1884), Mindanao, Philipina
8 R. cantleyi Solms-Laubach Solms-Laubach (1910), Perak, Peninsular Malaysia
9 R. atjehensis Koorders Koorders (1918), Lokop, Nanggroe Aceh Darusalam
10 R. zollingeriana Koorders Koorders (1918), Puger, Jember, Jawa Tengah
11 R. gadutensis Meijer Meijer (1984), Ulu Gadut, Padang, Sumatera Barat
12 R. keithii Meijer Meijer (1984), Sungai Melaut, Sabah
13 R. kerrii Meijer Meijer (1984), Ranong, Kho Pawta Luang Keo, Thailand
14 R. micropylora Meijer Meijer (1984), Lokop, Leuser, Nanggroe Aceh Darusalam
15 R. pricei Meijer Meijer (1984), Mamut Copper Mine, Sabah
16 R. tengku-adlini Mat-Saleh & Latiff Mat-Saleh & A. Latiff (1989), Mount Trus Madi, Sabah
17 R. spesiosa Barcelona & Fernando Barcelona & Fernando (2002), Pulau Panay, Philipina
18 R. azlanii Latiff & Wong Latiff & Wong (2004), Kinta, Perak
19 R. mira Fernando & Ong Fernando & Ong (2005), Campostela Valley, Mindanao
20 R. bengkuluensis Susatya, Arianto & Mat-Saleh Susatya, Arianto & Mat-Saleh (2005), Talang Tais, Bengkulu
21 R. baletei Barcelona & Cajano Barcelona & Cajano (2006), Luzon, Philipina
22 R. lobata Galang & Madulid Galang & Madulid (2006), Central Panay, Philipina
23 R. leonardi Barcelona & Pelser Barcelona & Pelser (2008), Luzon, Philipina
24 R. aurintia Barcelona et al Barcelona et al (2009), Luzon, Philipina
25 R. lawangensis Mat-Saleh, Mahyuni & Susatya Mat-Saleh, Mahyuni & Susatya (2010), Bukit Lawang, Langkat, Sumatera Utara

 

Pertama Kali Ditemukan di Jawa Tengah

Agus menambahkan, orang asing yang pertama kali melihat rafflesia di Indonesia adalah dokter sekaligus penjelajah alam dari Perancis bernama Louis Auguste Deschamp. Louis Auguste Deschamp melihat Rafflesia di Pulau Nusa Kambangan, Jawa Tengah, pada 1797. Waktu itu, Louis Auguste Deschamp belum mengetahui atau memberi namanya. Baru pada 1825, ahli tumbuhan-tumbuhan dari Belanda bernama C. L. Blume yang saat itu menjabat sebagai direktur Kebun Raya Bogor memberi nama Rafflesia patma.

Di Bengkulu, orang asing yang pertama kali melihat rafflesia adalah Dr. Joseph Arnold. Ahli botani dari Inggris itu melihatnya di Pulau Lebar, Bengkulu Selatan pada 1818. Saat melihatnya, Joseph Armold juga belum mengetahui atau memberi namanya. Baru pada 1820, ahli tumbuh-tumbuhan dari Inggris bernama Robert Brown memberi nama Rafflesia arnoldii. Nama diberikan untuk menghormati Sir Stamford Raffles yang merupakan Gubernur Inggris di Bengkulu dan Joseph Arnold.

 

Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Rafflesia Arnoldii

Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya – LIPI, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Pemda Provinsi Bengkulu dan Dewan Riset Daerah Bengkulu telah menyusun Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Rafflesia arnoldii dan Amorphophallus titanum 2015 – 2025, dan mendeklarasikannya pada International Symposium on Indonesian Giant Flowers – Rafflesia and Amorphophallus pada 14 – 16 September 2015 di Bengkulu.

Dalam dokumen Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Rafflesia arnoldii dan Amorphophallus titanum 2015 – 2025 itu diketahui pengembangan ekowisata berbasis masyarakat dengan pola kemitraan multipihak menjadi strategi andalan. Strategi tersebut dibangun dengan memperhatikan kondisi habitat, populasi, ancaman kepunahan dan hasil analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats).

Untuk Rafflesia arnoldii, kondisi habitatnya dinyatakan mengalami penurunan kualitas. Padahal kehidupan rafllesia sangat bergantung kepada keaslian habitatnya. Perubahan habitat akan menyebabkan kepunahan. Sementara kondisi populasi dinyatakan memiliki ukuran sangat rendah dikarenakan rafflesia membutuhkan kondisi sangat spesifik untuk tumbuh dan berkembang biak.

Untuk ancaman kepunahan, perubahan habitat menjadi ancaman utama. Disamping itu, predasi oleh binatang, rusaknya pohon inang, gangguan jamur dan cuaca terlalu basah menjadi ancaman langsung yang merusak bunga. Kegagalan menyelesaikan masa berbunga mengakibatkan kehilangan kesempatan beregenerasi.

Dari hasil analisis SWOT diketahui faktor kekuatan meliputi unik, endemik, asli, langka, sehingga bernilai konservasi tinggi; indah dan menarik, sehingga bernilai komersial tinggi untuk wisata; menjadi maskot identitas daerah dan berbagai institusi nasional dan internasional; masyarakat memiliki kesadaran melindungi dan melestarikan di luar kawasan hutan; sudah terbentuk organisasi pencinta puspa langka dan beberapa LSM pemerhati dan pelestarian Rafflesia arnoldii.

Faktor kelemahan meliputi pengelolaan kawasan belum optimal; lemahnya pembiayaan; lemahnya kelembagaan pengelolaan; kurangnya riset; belum menjadi prioriatas pembangunan; belum ada pembinaan dan kurangnya insentif untuk masyarakat yang melindungi dan melestarikan; belum maksimalnya penyebarluasan pengetahuan tentang rafflesia; dan belum maksimalnya keterlibatan sektor swasta.

Sedangkan faktor peluang meliputi perhatian internasional terhadap Rafflesia arnoldii cukup tinggi; bunga unik dan langka sehingga berpotensi menarik perhatian masyarakat dunia dan dapat mendatangkan devisa melalui wisata; bisa menjadi inspirasi dan pendorong pengembangan wilayah dan pembangunan masyarakat sekitar hutan; dan adanya prospek untuk meningkatkan nilai ekonomi masyarakat setempat.

Sementara faktor ancaman, adanya hambatan dalam melakukan penelitian; kerusakan habitat karena perambahan dan penebangan liar; perburuan dan pemanenan ilegal; wisata tak terkendali; dan ketidaktahuan masyarakat akan nilai fungsi dan manfaat Rafflesia arnoldii.

Strategi pengembangan ekowisata berbasis masyarakat dengan pola kemitraan multipihak dibangun dengan pemahaman bahwa masyarakat merupakan bagian dari solusi, dan kepentingan ekologi dan ekonomi bisa bersinergis. “Intinya pemberdayaan masyarakat dengan ekowisata. Dalam pelaksanaannya, akan melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, LSM atau NGO dan sektor swasta,” ujar Agus Susatya yang juga Wakil Ketua Forum Komunikasi Riset dan Pengembangan Rafflesia dan Amorphophallus ini.

Tak berbeda disampaikan Peneliti Rafflesia dan Amorphophallus dari LIPI yang juga Ketua Forum Komunikasi Riset dan Pengembangan Rafflesia dan Amorphophallus Sofi Mursidawati. Menurutnya, Indonesia bisa belajar dari Malaysia dan Filipina yang lebih dahulu mengembangkan dan menjadikan ekowisata Rafflesia arnoldii sebagai wisata unggulan.

“Upaya konservasi Rafflesia arnoldii dengan skema ekowisata sangat berpotensi untuk memberikan manfaat secara ekonomi bagi masyarakat, pemerintah daerah dan negara,” kata Sofi. Untuk diketahui, Rafflesia arnoldii telah ditetapkan sebagai Puspa Langka Nasional berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 4 tahun 1993 tentang Satwa dan Bunga Nasional. (**)

Tulisan ini dikemas ulang dari catatan pribadi, Rafflesia Mekar: Dari Mitos Cawan Hantu Hingga Fakta Keterancamannya dan Ekowisata, Strategi Andalan Konservasi Rafflesia dan Amorphophallus

Advertisements

About dedek hendry

Seorang warga yang belajar menjadi jurnalis sejak tahun 2004, yang tercatat sebagai anggota The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) Bengkulu dan Ketua Aliansi Jurnalis Independen (The Alliance of Independent Journalists) Bengkulu. Pernah menjadi Reporter dan Editor untuk Rakyat Bengkulu, Pemimpin Redaksi untuk Radar Bengkulu, Inisiator jurnalisme komik lingkungan hidup (Konteks) di Bengkulu dan jurnalisme warga (perempuan) Lentera Perempuan, dan kini menjadi kontributor (freelance journalist) untuk Mongabay Indonesia. Gunung Itu Bernama Jurnalisme. Puncaknya: Kebebasan dan Kebahagiaan.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: