you're reading...
Masyarakat Lokal/Hukum Adat

Daya Tampung Maksimum Pulau Enggano 2.600 KK ?

Pulau Enggano merupakan salah satu pulau kecil terluar di Indonesia. Secara administrasi, Pulau Enggano yang merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu, terbagi menjadi Desa Malakoni, Meok, Banjar Sari, Kaana, Apoho dan Kahyapu. Berdasarkan hasil studi yang dilakukan Pusat Penelitian Lingkungan Universitas Bengkulu, Pulau Enggano yang memiliki luas wilayah darat sekitar 40.060 hektar itu memiliki daya tampung maksimum 2.600 kepala keluarga.

Daya tampung maksimum itu diperoleh dengan mempertimbangkan ketersediaan air tawar untuk mencukupi kebutuhan penduduk. Ketersediaan air tawar itu dihitung berdasarkan besarnya hujan dan prosentase air yang masuk ke daerah resapan. Dari hasil penghitungan, diketahui potensi air yang diperoleh adalah sekitar 823.527.000 liter per tahun atau 2.600.000 liter per hari.

“Apabila kebutuhan rumah tangga rata-rata 1.000 liter per hari, maka dalam satu hari ketersediaan air di Pulau Enggano bisa mencukupi kebutuhan 2.600 kepala keluarga atau 13.000 jiwa,” demikian ditulis dalam laporan Studi Daya Dukung Pemanfaatan dan Pengembangan Kepulauan Enggano (2006) yang dilakukan Pusat Penelitian Lingkungan Universitas Bengkulu.

No Nama Desa Luas (hektar)
1 Malakoni 4.021
2 Meok 6.090
3 Banjar Sari 12.410
4 Kaana 8.701
5 Apoho 275
6 Kahyapu 8.563
Total 40.060

Daya Tampung Maksimum Berdasarkan Lahan Produktif

Pusat Penelitian Lingkungan Universitas Bengkulu juga menghitung daya tampung maksimum dengan mempertimbangkan ketersediaan lahan produktif. Dengan asumsi 60 persen dari luas kawasan produktif (25.687 hektar) merupakan potensi kawasan produktif budidaya (15.409 hektar) dan tingkat kelayakan kepemilikan lahan dianggap seluas 1,5 hektar untuk setiap kepala keluarga, maka Pulau Enggano dapat menampung maksimum 51.364 jiwa atau sekitar 10.273 Kepala Keluarga (KK).

Luas kawasan produktif (25.687 hektar) diperoleh dari selisih luas wilayah darat Pulau Enggano (40.060) dan kawasan hutan (14.373 hektar). Luas kawasan hutan tersebut meliputi CA Sungai Baheuwo (496,06 hektar), CA Teluk Klowe (331,23 hektar), CA Tanjung Laksaha (333,28 hektar), CA Kioyo I dan Kioyo II (305 hektar), Taman Buru Gunung Nanua (7.271 hektar), HL Koho Buwa-Buawa (3.450 hektar) dan HPT Ulu Malakoni (2.191,78 hektar). Sehingga, luas kawasan produktif di Pulau Enggano adalah 25.687 hektar.

No Nama Kawasan Hutan Luas (hektar)
1 Cagar Alam Sungai Baheuwo 496,06
2 Cagar Alam Teluk Klowe 331,23
3 Cagar Alam Tanjung Laksaha 333,28
4 Cagar Alam Kioyo I dan Kioyo II 305
5 Taman Buru Gunung Nanua 7.271
6 Hutan Lindung Koho Buwa-Buawa 3.450
7 Hutan Produksi Terbatas Ulu Malakoni 2.191,78
Total 14.377,35

Sumber: Profil Kawasan Konservasi Enggano, Regen (2011)

Pengakuan dan Perlindungan Hak dan Wilayah Adat

Ketua Badan Pengurus Harian Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Wilayah Bengkulu Def Tri Hamri mengemukakan pihaknya akan mendampingi masyarakat hukum adat Enggano yang memperjuangkan Perda pengakuan dan perlindungan hak dan wilayah masyarakat hukum adat Enggano yang berdiam di pulau Enggano. “Langkah ini penting dilakukan untuk melindungi keberlanjutan masyarakat hukum adat Enggano yang kian hari kian terdesak oleh pembangunan dan perkembangan zaman,” ujar Def (baca: Rejang Yang Berjuang Untuk Mendapat Pengakuan Hutan Adat).

Def menambahkan, umumnya tanah di Pulau Enggano adalah tanah adat (Inyah Panapue) dengan pembagian wilayah berdasarkan wilayah adat suku (kaudar). Kaudar dimanfaatkan menjadi wilayah pemukiman atau kampung, kebun atau ladang serta pekarangan. Wilayah kaudar dihitung dari garis pantai sampai ke darat dengan jarak sekitar 3 Km. “Selebihnya merupakan tanah ulayat yang disebut Dopo Kihabuiyaika,” ujar Def.

Masyarakat Hukum Adat Enggano, sambung Def, memiliki kearifan lokal berupa keramat Hium Koek dan larangan-larangan adat yang selaras dengan upaya pelestarian hutan, sehingga menjadikan hutan di Pulau Enggano adalah hutan primer. Aturan adat tidak hanya untuk kawasan hutan, tetapi juga wilayah laut. Untuk wilayah laut adat disebut Eyuwe Kaudar, sedangkan wilayah laut ulayat dari garis pantai disebut Eyuwe Kihabuiyaika.

LIPI: Harus Didukung

Koordinator Kedeputian Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemasyarakatan LIPI, Dedi Supriadi Adhuri, Ph.D mengatakan, perjuangan masyarakat adat Enggano memperoleh pengakuan hak dan wilayah adat harus didukung. Bila diakui, maka masyarakat adat Enggano dapat melakukan pengelolaan sumberdaya alam sesuai dengan hukum adat dan kearifan yang dimiliki.

Mantan staf ahli RUU Desa DPR RI Yando Zakaria dan Koordinator Kedeputian Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemasyarakatan LIPI, Dedi Supriadi Adhuri, Ph. D bertukar pendapat. - Copy

Mantan staf ahli RUU Desa DPR RI R. Yando Zakaria dan Koordinator Kedeputian Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemasyarakatan LIPI, Dedi Supriadi Adhuri, Ph. D bertukar pendapat di sela-sela workshop yang diselenggarakan oleh Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Barisan Pemuda Adat Nusantara Bengkulu, 23 – 25 Mei 2015 di Kota Bengkulu.

 

Menurut Dedi, banyak hasil penelitian membuktikan bahwa pengelolaan sumberdaya alam yang dilakukan oleh masyarakat adat lebih efektif, adil dan berkelanjutan dibandingkan pengelolaan sumber daya alam yang dilakukan oleh negara. “Mengembalikan pengelolaan sesuai hukum adat tidak berarti mengadopsi seutuhnya seperti pada zaman dahulu, tetapi tetap perlu menyesuaikannya dengan realitas kekinian dan mengantisipasi masa depan,” kata Dedi (baca :Peta Jalan, Menuju Pengakuan Hak dan Wilayah Adat di Pulau Enggano.

Pakar hukum adat dari Universitas Bengkulu Andri Harijanto, SH, M.Si mengatakan, syarat agar masyarakat adat memperoleh pengakuan atas hak dan wilayah adatnya adalah adanya masyarakat adat, adanya wilayah adat, adanya harta kekayaan bersama milik masyarakat adat, adanya hukum adat, dan adanya struktur atau fungisonaris hukum adat, yang semuanya sudah dimiliki oleh Masyarakat Adat Enggano. Sehingga, tidak ada alasan bagi pemerintah daerah enggan mendukung perjuangan Masyarakat Adat Enggano.

“Praktek eksploitasi sumber daya alam yang telah dan masih terjadi di Pulau Enggano harus segera dihentikan. Bila tidak, penghancuran yang terjadi. Untuk menyelamatkan pulau Enggano dari kerusakan lingkungan, pengelolaan sumber daya alam berdasarkan hukum adat adalah jawabannya,” jelas Andri.

Menurut Andri, yang pernah lama melakukan penelitian hukum adat Enggano, pengelolaan sumberdaya alam yang mempedomani hukum adat akan berdampak positif untuk menekan laju kerusakan lingkungan di Enggano, yang merupakan ekosistem pulau yang tergolong rentan.

Awalnya, penduduk Pulau Enggano terdiri dari suku Kaahoao, Kaitora dan Kaarubi. Sempat berkembang menjadi 44 suku, namun akibat perperangan antar suku dan wabah penyakit, jumlah suku berkurang dan tinggal menjadi lima suku. Yakni, Kaahoao, Kaitora, Kaarubi, Kauno dan Kaharuba. Selanjutnya, penduduk asli Enggano menetapkan dan memberikan nama suku Kaamay untuk pendatang.

Tiap suku dipimpin oleh kepala suku. Dari enam kepala suku dipilih seorang sebagai Paabuki. Dalam menjalankan tugas, kepala suku dibantu kepala pintu suku atau kap kaudar. Suku Kaahoao terdiri dari kap kaudar Bok, Kap Kaudar Kapuiheu, kap kaudar kakore, dan kap kaudar Yamu’i. Suku Kaitora hanya terdiri Kap Kaudar Kaitora. Suku Kaarubi terdiri dari kap kaudar Ahipe, Kap Kaudar Abobo dan Kap Kaudar Kaanaine.

Suku Kauno terdiri dari Kap Kaudar Kapururu, Kap Kaudar Ka’duai dan Kap Kaudar Nahyeah-Pabuuy. Suku Kaharuba hanya terdiri kap kaudar Kaharuba. Dan Suku Kaamay terdiri dari 2 bagian wilayah, yaitu wilayah bagian barat dan wilayah bagian timur. Warga enam suku tersebut berdomisili Desa Malakoni, Meok, Banjarsari, Kaana, Apoho, dan Kahyapu. (**)

Advertisements

About dedek hendry

Gunung Itu Bernama Jurnalisme. Puncaknya: Kebebasan dan Kebahagiaan.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: