you're reading...
Keanekaragaman Hayati, Perubahan Iklim

Petani Kopi Bisa Ambil Untung Dari Perubahan Iklim

Perubahan iklim membawa tantangan serius bagi sektor perkebunan. Kenaikan temperatur bisa mengakibatkan kekurangan air, peningkatan hama dan penyakit, serta penurunan kuantitas dan kualitas produksi. Namun, dampak perubahan iklim di suatu daerah dengan daerah lain bervariasi. Termasuk terhadap sektor perkebunan kopi arabika.

Namun, petani kopi arabika di regional Andes, Afrika Timur dan Indonesia berkemungkinan dapat mengambil untung dengan peluang pasar baru di tingkat global. “Namun, mereka membutuhkan kebijakan dan strategi khusus untuk menjamin perluasan perkebunan kopi yang tepat dari aspek iklim dan lingkungan,” terang Rivera dkk dalam artikel laporan penelitian yang dipublikasikan pada http://www.plos.org belum lama ini.

Rivera dkk menyebutkan perubahan iklim akan menurunkan produktivitas dan kualitas kopi arabika di berbagai belahan dunia. Di Indonesia, diperkirakan akan terjadi penurunan luas wilayah yang cocok untuk perkebunan kopi arabika sebesar 21 – 37 persen. Bila selama ini perkebunan kopi arabika berada pada ketinggian 500 – 2000 dpl, kedepannya wilayah yang dinilai cocok berada pada ketinggian 800 – 2300 dpl.

“Area yang cocok untuk bertanam kopi arabika di Indonesia akan lebih kecil pada 2050 dibandingkan pada saat ini, akan tetapi area yang cocok bertanam kopi arabika pada 2050 dapat lebih besar daripada area yang telah digunakan untuk perkebunan saat ini. Sehingga tingkat total produksi dapat dipertahankan,” terang Rivera dkk.

Di lain pihak, petani kopi juga bisa mengambil untung dari tuntutan pasar global akan kopi arabika ramah lingkungan. Selain bisa mengubah pola menjadi perkebunan organik, petani juga dapat mengubah pola perkebunan dari monokultur menjadi polikultur. Pola yang dilakukan dengan menanam beragam jenis pohon yang dapat memberi manfaat secara ekologi dan ekonomi. (Lihat: Pertanian Polikultur: Tradisional, Namun Mutakhir, aktaku.wordpress.com).

Di Kabupaten Aceh Tengah, pola perkebunan kopi polikultur dilakukan dengan menanam tanaman semusim seperti cabe, dan lamtoro, jeruk, alpukat, nangka dan tanaman lainnya. (Lihat: Kopi Gayo dan Perubahan Iklim). Terkait perubahan iklim, perkebunan kopi berpola polikultur ternyata dapat menyerap lebih banyak karbon dibandingkan pola monokultur.

Hasil penelitian Conservatioan Internasional Indonesia menyebutkan stok karbon pada kawasan kebun kopi arabika di Aceh Tengah yang beropa polikultur mencapai 235,40 ton /ha/tahun (Lihat: Panduan Sekolah Lapang Kopi Konservasi). Jauh berbeda dibandingkan berpola monokultur, hanya mampu menyimpan karbon sebesar 100 ton/ha/tahun. Kemampuan penyerapan karbon ini tentu bisa menjadi nilai lebih untuk memasarkan hasil perkebunan kopi arabika yang berpola polikultur. (**)

Advertisements

About dedek hendry

Gunung Itu Bernama Jurnalisme. Puncaknya: Kebebasan dan Kebahagiaan.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: