you're reading...
Keanekaragaman Hayati

Mungkinkah Jaringan Bisnis Ilegal Gading Gajah di Kaur Dapat Diberantas?

Melingkupi 74.822 hektare atau 23 persen dari luas keseluruhan kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), Kabupaten Kaur sudah cukup lama dikenal sebagai salah satu wilayah jaringan bisnis ilegal gading gajah di Pulau Sumatera. Bahkan, barang olahan gading gajah seperti tongkat komando dan pipa rokok dianggap sebagai souvenir khas Kabupaten Kaur. Hanya saja, selama ini pemberantasannya seakan sulit dilakukan. Selain para pelakunya cukup berpengalaman, ditengarai juga melibatkan oknum aparat.

Oleh karena itu, penanganan kasus tongkat komando dan pipa gading gajah yang sedang dilakukan Polda Bengkulu diharapkan dapat membuka tabirnya. “Harapan kami, penyidik Polda Bengkulu mampu melakukan pengembangan dari keterangan atau pengakuan tersangka. Sehingga, jaringan perburuan dan perdagangan ilegal gading gajah bisa dibongkar dan diberantas,” kata Koordinator Wildlife Crime Unit/Wildlife Conservation Society, Irma Hermawati, Jumat (25/07).

Tongkat komando dan pipa rokok terbuat dari gading gajah. Foto diambil dari akun facebook Aliantoro Saje (https://www.facebook.com/photo.php?fbid=690359061064873&set=pb.100002723562513.-2207520000.1440341557.&type=3&theater)

Tongkat komando dan pipa rokok terbuat dari gading gajah. Foto diambil dari akun facebook Aliantoro Saje (https://www.facebook.com/photo.php?fbid=690359061064873&set=pb.100002723562513.-2207520000.1440341557.&type=3&theater)

Pada Senin (13/07), Tim Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Bengkulu menangkap YE warga Desa Padang Genteng, Kabupaten Kaur yang membawa 3 buah tongkat komando sepanjang 46 cm dan 2 buah pipa rokok sepanjang 21 cm yang terbuat dari gading gajah. Telah memulai terlibat dalam jaringan bisnis gading gajah sejak tahun 2003, YE pun dikenal dengan panggilan Man Gading. Menurut Irma, sudah tiga tahunan ini WCS-IP dan sejumlah lembaga internasional memantau pergerakan YE. “Kami melaporkan dia (YE) ke Polda Bengkulu,” kata Irma.

Terkait barang bukti berupa tiga buah tongkat komando, Irma menilai, penting untuk menjadi perhatian Polri dan TNI. “Kami memohon agar pejabat di kepolisian dan militer menolak pemberian atau membeli tongkat komando yang terbuat dari gading gajah. Dengan menerima pemberian atau sengaja membelinya, berarti ikut memperparah tingkat perburuan gading gajah. Termasuk pejabat di Pemda agar tidak membudayakan memberi souvenir berupa tongkat komando, pipa rokok atau barang lainnya yang terbuat dari gading gajah kepada pejabat yang melakukan kunjungan kerja,” ujar Irma.

Kepala Resort Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Kaur, Rinjuan Windi juga berharap Polda Bengkulu mampu melakukan pengembangan agar bisa membongkar jaringan perburuan, kerajinan dan perdagangan ilegal gading gajah di Kabupaten Kaur. “Masih ada. Tapi memang tidak mudah untuk membongkarnya. Mereka profesional. Sejak tahun 2009, kami melacak pemburu gading gajah. Namun belum berhasil, mereka berburu secara sembunyi-sembunyi,” kata Rinjuan, Kamis (23/07). Dia juga tidak menampik informasi bahwa tongkat komando dan pipa rokok dari gading gajah dianggap sebagai souvenir “khas” Kabupaten Kaur.

Nilai Transaksi Capai Miliaran Rupiah

Seorang mantan perajin gading gajah di Kabupaten Kaur, L yang ditemui di rumahnya pada Rabu (23/07) mengemukakan nilai bisnis gading gajah bisa mencapai miliaran rupiah. Khususnya untuk gading gajah yang masih utuh. Semakin berat, maka semakin mahal harga jual per kilogram gading gajah. “Untuk kelas super, harga per kilogramnya bisa mencapai Rp 50 juta,” kata pria yang mengaku mulai meninggalkan pekerjaan sebagai perajin gading gajah sejak 2013.

Kelas super yang dimaksud adalah istilah untuk sepasang gading gajah dengan berat di atas 40 kg. Bila berat sepasang gading gajah hanya 40 kg, maka harga jualnya berkisar Rp 30 jutaan per kilogram. “Namun, selama 20 tahunan menggeluti pekerjaan itu (perajin gading gajah), saya belum pernah melihat gading gajah dengan berat mencapai 40 Kg. Saya sempat bertanya pemburu gading gajah di sini (Kaur) yang tergolong senior, namun kini sudah tidak lagi menjadi pemburu, dia mengaku belum pernah mendapatkan sepasang gading gajah dengan berat 40 Kg. Paling berat yang pernah didapatnya adalah 34 kg,” katanya.

Dia menambahkan, cukup banyak pemilik gading gajah yang meminta jasanya adalah oknum aparat. Selain pipa rokok dan tongkat komando, pesanan yang diperolehnya adalah membuat gagang pistol. “Tapi pesanan membuat gagang pistol tidak sebanyak pesanan membuat pipa rokok dan tongkat komando. Mungkin karena banyak yang mencari dan menyukai pipa rokok dan tongkat komando. Selain itu, ada juga yang meminta untuk dibuatkan menjadi bandul kalung, gelang dan cincin, tapi tidak begitu banyak,” ujarnya.

Dibandingkan gading Gajah Thailand, menurut pria yang pernah memperkerjakan sekaligus melatih enam orang untuk melayani pesanan, gading Gajah Sumatera lebih disukai. Sebab, gading Gajah Sumatera lebih halus dan lebih lembut. Selain itu, gading Gajah Sumatera berwarna agak kemerah-merahan. “Kalau saja ada dua buah pipa rokok yang satu terbuat dari gading Gajah Sumatera dan satunya lagi terbuat dari gading Gajah Thailand, maka pembeli yang berpengalaman akan memilih gading Gajah Sumatera,” katanya sembari menambahkan gading gajah Sumatera dari Aceh, Riau dan Jambi juga lebih disukai dibandingkan gading gajah Sumatera dari Lampung dan Bengkulu.

Pelajari Kemungkinan Oknum Aparat Terlibat

Direktur Direktorat Reserse dan Kriminal Khusus Polda Bengkulu Kombes Roy Hardi Siahaan mengatakan, pihaknya masih melakukan pengembangan terhadap perkara yang telah mendudukan YE sebagai tersangka. Khususnya terkait pengakuan YE membeli 3 tongkat komando dan 2 pipa rokok gading gajah dari seseorang yang berinisial S. “Kami akan mengecek kebenaran keterangan tersebut. Apa benar S yang menjadi supplier? Bila benar, tentu S juga akan ditindak,” terang Roy, Kamis (23/07). Terkait kemungkinan bisnis gading gajah melibatkan oknum aparat, Roy mengaku, pihaknya juga sedang mempelajarinya.

Terhadap perbuatannya, YE dijerat pasal 40 ayat (2) Jo Pasal 21 ayat (2) huruf d Udang-undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dengan ancaman pidana penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp 100 juta. Disinggung mengenai ancaman pidana penjara dan denda tersebut relatif tidak sebanding dengan nilai transaksi gading gajah dan kerugian ekologis, Roy menilai, pihaknya menjerat YE dengan pasal tersebut sesuai dengan UU. “Kami bekerja sesuai dengan aturan yang telah dibuat oleh DPR RI. Namun, hal itu akan menjadi kajian bagi kami,” ujar Roy.

Desak DPR RI Revisi UU No. 5/1990

Di lain pihak, Irma menilai, UU No 5/1990 sepantasnya untuk direvisi. “Nilai transaksi gading gajah lebih dari Rp 100 juta, sedangkan dendanya paling banyak Rp 100 juta. Jadi jangan heran bila didengar informasi ada pelaku perburuan dan perdagangan satwa liar yang mampu untuk memberikan jaminan lebih dari Rp 100 juta agar tidak ditahan. Apalagi, tidak sedikit vonis yang dijatuhkan relatif ringan, misalnya hanya 8 atau 3 bulan penjara dan denda Rp 10 juta. Akibatnya, tentu saja tidak mampu menimbulkan efek jera,” kata Irma.

Sebenarnya, tambah Irma, usulan agar UU No 5/1990 direvisi sudah cukup lama disampaikan ke DPR RI. Namun draf naskah revisi UU tersebut belum masuk dalam prioritas pembahasan Program Legislasi Nasional (prolegnas) di DPR RI. “Mudah-mudahan tahun depan (2016) bisa masuk prioritas Prolgenas. Selagi belum direvisi, maka upaya penyelamatan satwa liar melalui penegakan hukum, akan tetap lemah,” terang Irma. (**)

Tulisan ini disunting dari Tiga Tahun Diintai, Pelaku ini Ditangkap Saat Bawa Souvenir Gading Gajah dan catatan pribadi.

Advertisements

About dedek hendry

Seorang warga yang belajar menjadi jurnalis sejak tahun 2004, yang tercatat sebagai anggota The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) Bengkulu dan Ketua Aliansi Jurnalis Independen (The Alliance of Independent Journalists) Bengkulu. Pernah menjadi Reporter dan Editor untuk Rakyat Bengkulu, Pemimpin Redaksi untuk Radar Bengkulu, Inisiator jurnalisme komik lingkungan hidup (Konteks) di Bengkulu dan jurnalisme warga (perempuan) Lentera Perempuan, dan kini menjadi kontributor (freelance journalist) untuk Mongabay Indonesia. Gunung Itu Bernama Jurnalisme. Puncaknya: Kebebasan dan Kebahagiaan.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: