you're reading...
Jurnalisme dan Media

Politics to Media Perempuan Akar Rumput Untuk Keadilan Gender

“Lentera Perempuan adalah media milik Lantera Muda, organisasi yang beranggotakan para perempuan muda yang peka dan memiliki semangat untuk memperjuangkan hak-hak perempuan yang selama ini belum dilindungi, dipenuhi dan dihormati. Lentera Perempuan bertujuan membangun kesadaran bahwa perempuan memiliki hak-hak yang sama dengan laki-laki, dan hak-hak tersebut wajib dilindungi, dipenuhi dan dihormati agar mencapai keadilan gender. Lentera Perempuan juga bertujuan menyebarkan berbagai informasi mengenai kesehatan perempuan dan informasi penting lainnya mengenai perempuan. Lentera Perempuan hadir agar para perempuan lebih peduli dan peka serta turut memperjuangkan hak-hak perempuan”.

Tulisan di atas merupakan “Salam Redaksi” Lentera Perempuan, media perempuan akar rumput pertama di Provinsi Bengkulu. Pelakunya adalah perempuan Desa Sumber Urip Kabupaten Rejang Lebong yang berlatarbelakang pendidikan SMP dan SMA, dan bekerja di sektor informal. Diluncurkan pada Kamis (14 Mei 2015), media yang dicetak berwarna pada kertas berukuran A3 itu diproduksi untuk mengisi ruang-ruang publik di Desa Sumber Urip. Untuk tahap awal, produksi Lentera Perempuan dilakukan satu bulan satu kali. Namun, tidak menutup kemungkinan ke depannya Lentera Muda menambah frekuensi produksi Lentera Perempuan menjadi dua kali sebulan dan memperluas sasarannya ke ruang-ruang publik di desa tetangga.

ok-edisi 2-02-01Mengapa Cahaya Perempuan WCC, lembaga yang mendampingi dan menguatkan perspektif anggota Lentera Muda terkait Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi peka gender dan isu-isu perempuan bersedia memfasilitasi inisiatif Lentera Muda membangun Lentera Perempuan? Sebagaimana diketahui, peran media untuk memperjuangkan hak-hak perempuan sangat penting. Bahkan, Deklarasi Konferensi Dunia Perempuan PBB Pertama pada 1975 menyatakan bahwa media berkewajiban untuk membantu menghapuskan perilaku dan budaya yang membatasi kemajuan perempuan. Konferensi Dunia Perempuan PBB Keempat pada 1995 kembali menegaskan bahwa media berperan vital untuk mempromosikan kemajuan perempuan. Namun, sampai hari ini masih banyak media mainstream (arus utama) enggan melaksanakan kewajiban dan perannya.

Sejak lama, keengganan media mainstream untuk memperjuangkan hak-hak perempuan telah disikapi kalangan pembela hak perempuan di berbagai belahan dunia dengan membangun media alternatif. Dalam kajian perempuan dan media, aksi membangun media alternatif sebagai sarana perempuan bersuara dan membangun ruang publik perempuan itu disebut politics to media (Byerly and Ross, 2006). Aksi politics to media tersebut lahir sebagai wujud pengejewantahan hak perempuan untuk berkomunikasi dan berekspresi guna mengcounter dominasi laki-laki dan hegemoni ideologi patriarkhi pada media mainstream dan ruang-ruang publik (baca juga : Lentera Muda Berjuang Melalui Media Alternatif).

Aksi politics to media juga berkembang di Indonesia. Banyak organisasi perempuan membangun media alternatif. Hanya saja, media yang dibangun cenderung untuk menyebarkan informasi kegiatan yang telah dan akan dilakukan, menggambarkan manfaat dari kegiatan dan mendorong agar masyarakat memberikan dukungan. Menggunakan istilah Schiller dalam McPhail (2009), pendekatan membangun media yang digunakan adalah cultural imperalism. Pendekatan yang bersifat top-down dengan memposisikan masyarakat sebagai konsumen atau objek. Berbeda dengan pendekatan partisipatif (participatory) yang mendorong masyarakat menjadi pemilik/produsen dan konsumen media. Dengan kata lain, media dibangun berkonsep dari, oleh dan untuk masyarakat.

Memang tidak sedikit organisasi perempuan juga mendorong agar perempuan akar rumput membangun media alternatif. Namun, pengelolaan yang dilakukan mirip dengan media mainstream. Mengutip penjelasan Jarvis (2015), pengelolaan media mainstream lazimnya sekadar melaporkan permasalahan ke dunia atau keluar (externally). Bukan ke dalam (internally) dan membantu menyelesaikan atau memberi solusi terhadap permasalahan. Padahal, merujuk kerangka analisis gender Kabeer (2003) bahwa tantangan memperjuangkan keadilan gender berada pada lingkup keluarga, komunitas, pasar dan negara. Dalam konteks desa/kelurahan, berada pada masyarakat desa/kelurahan, pasar di desa/kelurahan dan pemerintahan desa/kelurahan. Akibatnya, wajar bila media yang dibangun tidak menjadi kekuatan pendorong perubahan di tingkat desa/kelurahan.

Dapatkah Lentera Perempuan mencapai tujuan sebagaimana dituliskan pada “Salam Redaksi” ? Tentu saja Lentera Perempuan dapat mencapainya. Mengingat bahwa media yang tidak resmi dan kurang dana dapat mempunyai dampak yang jauh lebih besar ketimbang media resmi dan mendapat dana cukup (Lull, 1997). Apalagi Carter and Steiner (2003), Chamber et al (2004), Howley (2005), Atton (2006), Byerly and Ross (2006), Kearney (2006), Downing (2010) dan Harcup (2013) telah membuktikan bahwa aksi politics to media berhasil mendorong perubahan secara signifikan. Terkait implementasi UU No 6 tahun 2014 tentang Desa, tentunya aksi politics to media perempuan akar rumput semakin dibutuhkan guna memperjuangkan agar RPJMDes dan APBDes bisa memiliki semangat dan komitmen untuk mencapai keadilan gender. (baca juga Perjuangkan Hak, Desa Ini Lahirkan Media Khusus Perempuan).

Tulisan ini telah dipublikasikan di Harian Rakyat Bengkulu (10/6/2015)

Advertisements

About dedek hendry

Gunung Itu Bernama Jurnalisme. Puncaknya: Kebebasan dan Kebahagiaan.

Discussion

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: Kemerdekaan, Kemiskinan dan Pelanggaran HKSR di Bengkulu | AKTAKU - September 1, 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: