you're reading...
Masyarakat Lokal/Hukum Adat

Tiga Tubuh Gerakan Perempuan Lokal Dalam Menaklukan Kapitalisme Global

IMGP0374Sore hari Minggu (29 Maret 2015) menjadi hari istimewa bagi diriku. Di sela-sela kelelahan setelah terlibat dalam Konsultasi Publik dan Lokakarya Penyusunan Perencanaan Strategis Cahaya Perempuan WCC yang dimulai sejak Kamis (26 Maret 2015), Dr. Titiek Kartika H memberikan “hadiah” berupa soft copy paper berjudul “Simbolisme Tubuh dalam Gerakan Perempuan Lokal” yang disampaikannya dalam Seminar Nasional “Jaringan dan Kolaborasi untuk Mewujudkan Keadilan Gender: Memastikan Peran Maksimal Lembaga Akademik, Masyarakat Sipil dan Negara” yang diselenggarakan Pusat Kajian Jepang – Universitas Indonesia pada 10 – 13 Februari 2015. Pemberian “hadiah” itu menjadi semakin istimewa karena saya pun diperbolehkan untuk mengutip atau menyadurnya. Padahal penerbitan prosiding seminar nasional yang akan memuat paper tersebut masih dalam proses.

**

Ketertarikan dengan “Tubuh Gerakan Perempuan Lokal” ini muncul sewaktu membaca buku karya Titiek Kartika berjudul “Perempuan Lokal vs Tambang Pasir Besi Global”. Buku tersebut dipinjami oleh Direktur Walhi Daerah Bengkulu Beni Ardiansyah saat saya, Dedy Ferdian Singgih, Zenzi Suhadi (mantan Direktur Walhi Daerah Bengkulu) dan tentu saja Beni mendiskusikan gagasan membuat jurnalisme komik yang menceritakan keberhasilan warga desa menghentikan aktivitas empat perusahaan tambang pasir besi yang merusak sumber penghidupan dan kehidupan warga desa pada akhir 2014.

Keberhasilan pertama kali diraih warga Desa Penago Baru dan Rawa Indah setelah mulai intensif melakukan perjuangan bersama Walhi Bengkulu pada pertengahan Agustus 2008. Setelah melakukan rangkaian aksi seperti aksi protes ke kantor Bupati Seluma yang melibatkan 3.000 orang, aksi mengungsi selama dua malam tiga hari di kantor Bupati Seluma yang melibatkan 2.025 orang, perjuangan warga berhasil menghentikan aktivitas PT FN mengeruk kandungan pasir besi dengan nilai Rp 19,9 triliun di lahan seluas 3.546 hektare di pesisir pantai Seluma.

Keberhasilan warga Desa Penago Baru dan Rawa Indah itu mampu menginspirasi warga Desa Pasar Talo. Perjuangan warga Desa Pasar Talo itu pun berhasil menghentikan aktivitas PT Pringgondani Rizki Utama di Desa Pasar Talo dan Desa Padang Batu. Keberhasilan itu juga menginspirasi warga Desa Pasar Seluma dan melalui rangkaian perjuangan mereka juga berhasil menghentikan aktivitas PT FN di muara Sungai Seluma dan PT Faminglevto Bhakti Abadi di perbatasan Desa Pasar Seluma dan Desa Pasar Ngalam. Kabar beberapa keberhasilan tersebut juga menginspirasi warga Desa Padang Manis dan Desa Wayhawang, Kabupaten Kaur melakukan perjuangan yang berbuah keberhasilan mendesak Pemda Kaur mencabut perizinan PT Selomoro Banyu Artho.

Sayangnya, gagasan membuat karya berbentuk jurnalisme komik sebagai salah satu sarana mendokumentasi keberhasilan perjuangan warga tersebut kandas di tengah jalan. Dedy yang awalnya akan membantu khusus untuk membuat gambar komik, tiba-tiba menghadapi suatu permasalahan cukup pelik. Sehingga, Dedy pun memutuskan tidak bisa melanjutkan tahapan untuk merealisasikan gagasan tersebut. Dengan terpaksa, kami pun memutuskan tidak melanjutkan tahapan pembuatannya. Padahal dalam skrip komik yang saya coba buat, saya telah memasukan aksi perempuan “memeluk mesjid” dan “menangkap burung” sebagaimana ditulis Titiek Kartika.

Tidak disangka, saya bertemu dengan beliau pada Januari 2015. Di sela-sela kesibukannya menjadi fasilitator pada pelatihan yang dilakukan Cahaya Perempuan, saya menyampaikan apresiasi terhadap karyanya “Perempuan Lokal vs Tambang Pasir Besi Global”, khususnya terkait pengungkapan aksi perempuan “memeluk masjid” dan “menangkap burung”. Kami pun terlibat dalam diskusi singkat. Dia menjelaskan bahwa “memeluk mesjid” dan “menangkap burung” merupakan simbolisme tubuh gerakan perempuan. Dia menambahkan masih ada satu lagi tubuh gerakan perempuan yang terdokumentasi dalam penelitiannya, yakni “mengibas baju”. Dia pun mengatakan akan menulis artikel khusus untuk membahasnya dan berjanji akan membagikannya kepada saya bila artikel tersebut sudah dibuat.

**

Dalam paper “Simbolisme Tubuh dalam Gerakan Perempuan Lokal”, Titiek menjelaskan bahwa tiga tubuh gerakan perempuan tersebut merupakan simbol dan pesan perlawanan perempuan terhadap penindasan berganda. Pertama kelindan neo-imperialisme korporasi global dan Pemerintah, dan kedua, praktik patriarki sehari-hari. Dalam melakukan kajian terhadap tubuh gerakan perempuan tersebut, Titiek menggunakan pisau feminis poskolonial dilengkapi dengan pisau diskursus tubuh sosial. Dengan diskursus tubuh sosial tersebut, tulis Titiek, dapat menunjukkan perspektif simbolisme dan identitas tubuh (Synnott 2007; Nietzsche dalam Synnott 2007, Montessori dalam Synnott 2007, Waskul dan Vannini 2013), dramaturgi (Waskul dan Vannini 2013), alam yang equivalen dengan tubuh perempuan (Haryono, Anita dan Aulia 2014; Arivia, 2014), dan tubuh sebagai kategori pelapisan sosial (Agusta, 2014).

Mengenai “mengibas baju”, Titiek mengemukakan bahwa memang ada budaya perempuan di kawasan penelitian yang melampiaskan kemarahan yang sangat mendalam dengan melakukan tindakan ekstrim. Misalnya mengibaskan sarung sebagai tanda puncak kemarahan dan rasa frustasi. Simbol sosial dari tubuh tersebut dilakukan akibat tidak ada lagi kata atau kalimat yang bisa dikatakan. Dalam melakukan perjuangan untuk menghentikan aktivitas perusahan yang merusak lahan dan menghabisi mata pencaharian perempuan di laut (mencari remis), aksi mengibas baju dilakukan kepada polisi sewaktu melakukan aksi demonstrasi. “Kami juga pernah mengibas-ibaskan baju kami kepada polisi bu, maksudnya untuk menunjukkan ‘perut kami lapar’, dan pada demonstrasi itu kamipun makan dengan sayur mentah,” ungkap subjek penelitian sebagaimana dikutip Titiek.

Untuk memeluk masjid, tulis Titiek, dilakukan perempuan untuk ‘menyembunyikan’ suami dan laki-laki yang ikut protes dari reaksi polisi pasca aksi protes besar-besaran warga. Setelah menyuruh suami dan laki-laki masuk ke dalam mesjid, kaum perempuan dan anak-anak berdiri mengelilingi mesjid, bersiap menghadapi barisan polisi. Tak tanggung-tanggung, kekuatan aparat kepolisian yang dihadapi perempuan berjumlah cukup besar. Polisi datang ke mesjid dengan menggunakan 3 truk pengangkut personel polisi, 1 mobil tahanan, 1 sedan, dan 1 jip taft. Saat “memeluk mesjid”, tidak sedikit perempuan melakukannya sambil menggendong bayi. “Alasannya, pertama, ada solidaritas, sebab semua memperjuangkan nasib desa dan nasib nya sendiri. Kedua, perempuan mengkhawatirkan nasib para suami; menurut perhitungan bila suami ditangkap dan dijebloskan ke penjara, perempuan sangat repot mengurusi pembebasannya,” terangTitiek.

Mengenai “menangkap burung”, Titiek menuliskan bahwa aksi tersebut sengaja dilakukan demonstran perempuan dengan terlebih dahulu meminta demonstran laki-laki mundur dari barisan depan agar menghindari terjadinya tindak kekerasan atau bentrok fisik antara laki-laki dengan polisi. Aksi menangkap burung tersebut dilakukan demonstran perempuan saat posisi demonstran sudah dekat dengan barisan polisi. “Tidak ada yang menyuruh, keinginan kami sendiri untuk menangkap. Polisi cemas, katanya ‘Woi, ibu-ibu ini melawan nian’. Setelah pegang burung, kami dorong polisi laki-laki itu mundur, dan mereka mundur. Akhirnya polisi laki-laki mundur,” terang subjek penelitian seperti dikutip Titiek.

Sebagai tubuh gerakan, Titiek menjelaskan, perempuan memerlukan identitas gerakan yang kuat. Konstruksi komitmen dan integritas menjadi instrumen memelihara soliditas. Bagi orang luar, tuntutan ini terasa berlebihan. Tetapi bagi mereka yang menghadapi kekuatan tubuh kapitalisme global, tidak ada jalan lain kecuali membangun militansi. Termasuk bagaimana mendefinisikan identitas tubuh sosial lawan, dan identitas tubuh sosialnya sendiri. Proses ini juga bisa dikatakan sebagai ideologisasi dalam gerakan perempuan.(**)

Advertisements

About dedek hendry

Seorang warga yang belajar menjadi jurnalis sejak tahun 2004, yang tercatat sebagai anggota The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) Bengkulu dan Ketua Aliansi Jurnalis Independen (The Alliance of Independent Journalists) Bengkulu. Pernah menjadi Reporter dan Editor untuk Rakyat Bengkulu, Pemimpin Redaksi untuk Radar Bengkulu, Inisiator jurnalisme komik lingkungan hidup (Konteks) di Bengkulu dan jurnalisme warga (perempuan) Lentera Perempuan, dan kini menjadi kontributor (freelance journalist) untuk Mongabay Indonesia. Gunung Itu Bernama Jurnalisme. Puncaknya: Kebebasan dan Kebahagiaan.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: