you're reading...
Jurnalisme dan Media, Masyarakat Lokal/Hukum Adat

Mengapa Media Massa Tak Memihak Masyarakat Adat ?

Sejumlah masyarakat adat Rejang mengikuti pelatihan jurnalisme warga. Foto: Yayasan Akar

Sejumlah masyarakat adat Rejang mengikuti pelatihan jurnalisme warga. Foto: Yayasan Akar

Tidak sedikit kalangan aktivis lingkungan hidup dan masyarakat adat pernah menyampaikan kritikan terhadap media massa. Masih banyak media massa tak memihak, mengingkari, bahkan ikut menghancurkan keberadaan masyarakat adat. Mengapa hal tersebut terjadi? Apakah jurnalis atau media massa sengaja melakukannya?

Salah satu konsep yang penting untuk mendiskusikan jurnalisme dan media massa adalah framing (pembingkaian). Terlepas pernah atau tidak mempelajarinya, seorang jurnalis mengoperasionalkan konsep tersebut saat mencari, menyeleksi, menyimpan dan mengolah data/fakta yang diperoleh untuk menjadi berita. Sebagaimana dikemukakan Reese (2011) yang merujuk definisi yang dikembangkan Entman (1993) dan Tankard dkk (1991) bahwa framing berkaitan dengan cara peristiwa dan isu disusun dan dapat dimengerti.

Membingkai, terang Entman, berarti memilih beberapa aspek realitas yang dipersepsikan dan membuatnya lebih menonjol dalam teks komunikasi, sebagai cara untuk mempromosikan suatu definisi masalah tertentu, interpretasi sebab-akibat, penilaian moral, dan/atau rekomendasi penanganan. Sementara Tankard dkk mendefinisikannya sebagai suatu pusat pengorganisasian ide untuk konten berita yang memberikan konteks dan mensugestikan isu melalui penyeleksian, penekanan, pengecualian, dan penggabungan.

Dikarenakan berita disusun melalui penyeleksian dan penonjolan, maka tidaklah tepat mengasumsikan bahwa berita yang ditampilkan media bersifat netral atau bebas dari ideologi. Bahkan Hackett (1984) dalam Tankard (2001) menegaskan bahwa ideologi memberikan kerangka kerja bagi media dalam menampilkan peristiwa. Durham (2001) pun menambahkan, pembingkaian media sangat bergantung pada kemampuan jurnalis dan narasumber untuk membagikan asumsi ideologis mengenai bukti yang ada dan cara untuk mengkonstruksikannya.

Bagi kalangan aktivis lingkungan hidup atau masyarakat adat, tiga aliran atau ideologi gerakan lingkungan hidup yang dikelompokan Dietz sebagaimana dikemukakan Fakih (1998) yakni eco-facism, eco-developmentalism dan eco-populism, tentulah sudah familiar. Eco-facism yang dimaksud adalah gerakan lingkungan hidup yang memperjuangkan masalah lingkungan demi lingkungan itu sendiri.

Sementara eco-developmentalisme adalah gerakan lingkungan hidup yang memperjuangkan kelestarian lingkungan bukan demi lingkungan itu sendiri, tetapi demi keberlangsungan pertumbuhan ekonomi dan pemupukan modal (kapitalisme). Semboyan seperti “pembangunan berkelanjutan” diperkenalkan untuk mengabsahkan pertumbuhan dan pembangunan ekonomi kapitalis. Sedangkan eco-populism adalah gerakan lingkungan hidup yang sangat memihak kepada kepentingan rakyat. Lingkungan untuk kesejahteraan masyarakat.

Namun, apakah semua jurnalis mengenal dan memahami tiga aliran gerakan lingkungan hidup tersebut? Tentu saja tidak. Akibatnya, tidak perlu heran bila banyak jurnalis terseret arus aliran eco-facism dan eco-developmentalism karena sebagian besar narasumber mereka berasal dari kalangan pemerintah dan perusahaan. Sayangnya pula, tidak banyak organisasi lingkungan hidup dan masyarakat adat yang mengetahui kondisi ini. Sehingga, tidak banyak inisiatif untuk mengatasinya dengan memfasilitasi pendidikan mengenai ideologi atau aliran gerakan lingkungan hidup untuk para jurnalis. Akibatnya, kritikan bahwa jurnalis atau media massa tidak memihak masyarakat adat pun berkemungkinan akan terus muncul. (**)

Advertisements

About dedek hendry

Seorang warga yang belajar menjadi jurnalis sejak tahun 2004, yang tercatat sebagai anggota The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) Bengkulu dan Ketua Aliansi Jurnalis Independen (The Alliance of Independent Journalists) Bengkulu. Pernah menjadi Reporter dan Editor untuk Rakyat Bengkulu, Pemimpin Redaksi untuk Radar Bengkulu, Inisiator jurnalisme komik lingkungan hidup (Konteks) di Bengkulu dan jurnalisme warga (perempuan) Lentera Perempuan, dan kini menjadi kontributor (freelance journalist) untuk Mongabay Indonesia. Gunung Itu Bernama Jurnalisme. Puncaknya: Kebebasan dan Kebahagiaan.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: