you're reading...
Jurnalisme dan Media, Masyarakat Lokal/Hukum Adat

AMAN dan AJI Bengkulu Dukung Perjuangan Masyarakat Hukum Adat Enggano

Ketua Badan Pengurus Harian Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Wilayah Bengkulu Def Tri Hamri mengemukakan pihaknya akan mendampingi masyarakat hukum adat Enggano yang sedang memperjuangkan Perda pengakuan dan perlindungan wilayah masyarakat hukum adat Enggano yang berdiam di pulau Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara. “Langkah ini penting dilakukan untuk melindungi keberlanjutan masyarakat hukum adat Enggano yang kian hari kian terdesak oleh pembangunan dan perkembangan zaman,” kata Def Tri. Dalam mendampingi masyarakat hukum adat Enggano ini, AMAN Bengkulu akan dibantu Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bengkulu.

Pulau Enggano memiliki luas 39.586,74 hektar dan didiami oleh lima suku penduduk asli dan satu suku untuk pendatang. Lima suku penduduk asli tersebut adalah Kaarubi, Kaaruba, Kauno, Kaoaha, dan Kaitora, sedangkan suku pendatang adalah Kaamay yang awalnya diangkat dan diakui oleh suku Kauno. Warga suku mendiami Desa Malakoni, Meok, Banjarsari, Kaana, Apoho, dan Kahyapu. “Dalam sistem masyarakat hukum adat Enggano, pemimpin masyarakat adalah Paabuki yang dipilih oleh warga suku Enggano. Dalam menjalankan tugasnya, Paabuki dibantu oleh kepala-kepala suku,” ujar Def Tri.

Umumnya tanah di Pulau Enggano adalah tanah adat (Inyah Panapue) yang dimiliki secara turun temurun berdasarkan aturan adat Enggano dengan pembagian wilayah berdasarkan wilayah adat suku (kaudar). Kaudar dimanfaatkan menjadi wilayah pemukiman atau kampung, kebun atau ladang serta pekarangan. Wilayah kaudar dihitung dari garis pantai sampai ke darat dengan jarak sekitar 3 Km. “Selebihnya merupakan tanah ulayat yang disebut Dopo Kihabuiyaika,” terang Def Tri.

Tiap kaudar terdiri dari beberapa unit pengelolaan hutan yang dipimpin oleh koordinator suku (Kanapu Eahaowa). Setiap koordinator suku memilih kepala pintu suku yang disebut Kanapu Yakaruba. Aturan adat Enggano tidak hanya untuk kawasan hutan, tetapi juga wilayah laut. Untuk wilayah laut adat disebut Eyuwe Kaudar, sedangkan wilayah laut ulayat dari garis pantai disebut Eyuwe Kihabuiyaika. “Di Pulau Enggano terdapat sistem konservasi hutan adat yang bernama keramat Hium Koek dan larangan -larangan adat yang sangat selaras dengan upaya-upaya pelestarian hutan sehingga menjadikan hutan di Pulau Enggano adalah hutan primer,” ujar Def Tri.

Pengakuan dan perlindungan wilayah adat Enggano tersebut perlu dilakukan Pemda Bengkulu Utara mengingat negara telah memberikan pengakuan, penghormatan dan perlindungan terhadap masyarakat hukum adat melalui sejumlah aturan. Diantaranya, UUD 1945, UU No 39/1999 tentang Hak Asasi Manusia, UU No. 41/1999 tentang Kehutanan, UU No. 24/2003 tentang Mahkamah Konstitusi, UU No 31/2004 jo UU No 45/2009 tentang Perikanan, UU No. 7/2004 Tentang Sumber Daya Air, UU No. 27/2007 Tentang Pengelolaan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, UU No. 32/2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Putusan MK No. 35/ 2012 dan UU No. 6/2014 tentang Desa.

Gubernur Bengkulu Junaidi Hamsyah mengatakan, inisiatif yang dilakukan Masyarakat Hukum Adat Enggano tersebut perlu didukung bila persyaratan sebagai masyarakat hukum adat sebagaimana yang tertuang dalam aturan sudah lengkap atau dipenuhi. Persyaratan yang dimaksud diantaranya kelembagaan adat, hukum adat, dan wilayah adat.

“Pengakuan masyarakat hukum adat, wewenangnya ada di Pemerintah Kabupaten, Pemerintah Provinsi akan memfasilitasi bila terjadi kemandekan. Substansinya, bila prasyarat lengkap dan memang untuk kebutuhan masyarakat adat, akan didukung,” jelas Gubernur saat dihubungi Sabtu (24/1/2015) malam.

Koordinator Advokasi AJI Bengkulu Firmansyah mengatakan, AJI akan ikut membantu masyarakat hukum adat Enggano sebagai wujud pelaksanaan misi AJI dan penghormatan terhadap hak atas informasi masyarakat adat yang tertuang pada Deklarasi PBB tentang Hak-hak Masyarakat Adat. Bahwa masyarakat adat memiliki hak untuk membangun media sendiri dengan menggunakan bahasa yang dimiliki dan mengakses segala bentuk media bukan milik masyarakat adat tanpa diskriminasi.

Selain itu, negara harus menjamin media milik negara merefleksikan keberagaman kebudayaan dan harus menjamin kebebasan berekspresi dan mendorong perusahaan media merefleksikan keberagaman budaya masyarakat adat secara tepat. “AJI akan membantu masyarakat hukum adat Enggano untuk membangun media komunitas sebagai sarana melakukan advokasi, termasuk akan mendorong agar perusahaan media ikut mengadvokasi agar Pemda menerbitkan peraturan daerah yang melindungi dan mengakui wilayah adat Enggano,” ujar Firmansyah.

Langkah membantu masyarakat hukum adat Enggano untuk membangun media komunitas tersebut, sambung Firmansyah, juga selaras dengan Deklarasi Universal HAM, Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik, UUD 1945, UU No 39/1999 tentang HAM dan UU No 40/1999 tentang Pers. “Intinya, tidak hanya masyarakat hukum adat Enggano, bila saja masyarakat hukum adat Rejang, Serawai, Pekal, Semende, Lembak, Melayu Mukomuko atau lainnya juga membutuhkan bantuan, AJI Bengkulu siap membantu,” ujar Firmansyah.

Sumber: http://www.mongabay.co.id/2015/01/27/rejang-yang-berjuang-untuk-mendapat-pengakuan-hutan-adat/ dan catatan pribadi

Advertisements

About dedek hendry

Seorang warga yang belajar menjadi jurnalis sejak tahun 2004, yang tercatat sebagai anggota The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) Bengkulu dan Ketua Aliansi Jurnalis Independen (The Alliance of Independent Journalists) Bengkulu. Pernah menjadi Reporter dan Editor untuk Rakyat Bengkulu, Pemimpin Redaksi untuk Radar Bengkulu, Inisiator jurnalisme komik lingkungan hidup (Konteks) di Bengkulu dan jurnalisme warga (perempuan) Lentera Perempuan, dan kini menjadi kontributor (freelance journalist) untuk Mongabay Indonesia. Gunung Itu Bernama Jurnalisme. Puncaknya: Kebebasan dan Kebahagiaan.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow me on Twitter

%d bloggers like this: